+62-852-27-281672
info@literasikitaindonesia.com

Budaya Ditengah Gulungan Ombak Pandemic Covid – 19._

Fahrul Rozi, Guru PAI di SMK SWASTA CURUP, Bengkulu

Semenjak wabah Pendemi ini banyak hal yang biasa dilakukan, terasa aneh, dan merubah ekpresi wajah, yang sulit diterka antara suka atau berat menerima kebiasaan itu. Di setiap tempat, dan langkah ini mendatanginya, terasa terulang lagi sikap yang penuh keraguaan antara mempertahankan kebiasaan itu yang seutuhnya dari lahir dan batin sudah tertanam bahwa itu kebiasaan mulia, atau memang untuk sementara kebiasaan itu harus dibungkus terlebih dahulu agar tetap terjaga kewangiaannya.

Kebiasaan dianggap baik, bila dengan itu menumbuhkan rasa persaudaraan yang tinggi, dapat memelihara lingkungan yang bersih dari banyaknya sampah-sampah berserakan, terjadinya ketertiban dan kedisiplinan di tempat-tempat umum, sementara kebiasaan itu dianggap mulia, bila melahirkan ketenangan dihati dengan kebiasaan mendengarkan irama-irama yang berisikan kata-kata nasehat nan bijak ataupun kebiasaan mendengarkan lantunan ayat-ayat al quran, dapat juga dikatakan mulia kebiasaan itu bila setiap bertemu dengan saudara-saudara seiman senantiasa melafazkan salam.

Adapun kebiasaan buruk, merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang cenderung menghasilkan kerugian yang tidak sedikit. Semua manusia membutuhkan oksigen untuk bernafas 1 , manusia bisa menunda untuk tidak makan dan minum dengan waktu yang relative lama, tetapi manusia tidak dapat menunda  dalam waktu yang lama untuk tidak bernafas, karena akan mempengaruhi kehidupannya. Berbicara bernafas maka terkadang oksigen yang kita hirup mengandung bakteri, bila kondisi penciuman dan pernafasan kita sehat, maka ia kan merespon dengan melontarkan bakteri itu keluar kembali diistilahkan dengan bersiin, maka di sunahkan kita melapazkan Alhamdulillah. Diantara kebiasaan buruk, pada saat bersin-bersin tanpa usaha untuk menutupi atau mengalihkan kearah yang tidak orang kena imbas dari bersin itu, ditengah wabah ini kebiasaan buruk bersin sembarangan akan berdampak menjurus pada teguran ringan ataupun keras, bahkan ada juga sampai terjadinya perkelahiaan. Kebiasaan buruk yang lain bahkan dilakukan oleh masyarakat, yakni pemujaan kepada tempat-tempat keramat, pengiriman sesajen kepada leluhur menjalan bulan ramadhan tiba. Seandainya mereka tahu bahwa perbuatan dan kebiasaan mereka ini merupakan bentuk kesyirikan kepada Allah, maka tentu mereka sebagaian akan meninggalkannya. Kata mereka kalau ingin cepat kaya maka komat-kamit kepohon tua, ingin cepat dapat uang harus siap jadi babi hutan.2

Ada sebuah pesan dan Nasehat dari seorang Imam Al Ghazali “ Langkah mula terbaik bagi seorang pencari kebenaran adalah meniru kebiasaan orang-orang terbaik, terpandai, serta mendalami pengetahuannya”. Pesan ini merupakan tolak ukur bagi seorang muslim dalam bertindak agar tidak merugikan diri sendiri, biasanya sebuah kegiatan, aktifitas, tindakan, perbuatan seseorang sempat berkelana dalam pikirannya, disebabkan diteruskan, maka boomerang mengarah kepadanya.

Meniru kebiasaan orang-orang terbaik disekitarnya, harus menjadi sebuah keharusan, percayalah  kebiasaan mereka merupakan aplikasi keilmuan dan pengalaman yang syarat kebijak sanaan yang tercermin dalam kehidupan nyata, sehingga kebiasaan itu harus menjadi tuntunan bukan tontonan.

Bukannya konten-konten dari youtube sebagai dasar meraup air agar dahaga keilmuan keagamaan sirna, kalau ini dijadikan kebiasaan maka kasus seorang mahasiswa yang mencoret-coret dinding mussolah akan terjadi lagi kapanpun, Satrio Katon Nugroho merupakan seorang mahasiswa semester satu di perguruan swasta, ia tinggal di sukabumi, karena perbuatannya mencoret-coret dinding mussolah dan merobek Al quran, maka polisi menetapkannya sebagai tersangka dalam kasus penistaan agama, “saya Kapir dan Islam agama salah” merupakan kata-kata yang ia tulis di dinding-dinding Mussolah Darussalam yang berada di Villa Tanggerang Elok. Belajar dengan media Youtube tidak juga salah besar, asalkan ajaran-ajaran yang dipelajari haruslah diimbangi pemahaman Ilmu Tauhid yang benar, agar tidak salah kaprah dan tidak menelannya bulat-bulat, semisal ingin meminum teh, agar menghasilkan minum teh yang menyehatkan maka perlu sebuah penyaring.

Dari kebiasaan-kebiasaan yang dilestarikan secara berkesinambungan akan membentuk sebuah budaya, bahkan budaya ini akan dicontoh oleh individu lain, kota lain atau Negara lain. Agama islam yang terbuka dengan kebiasaan ataupun budaya-budaya lain, selama ia tidak bertentangan dengan akal, apalagi tidak melanggar syariat agama, maka budaya itu akan dirangkul, dan mendapat penegasan baik melalui wahyu Allah atau hadis Nabi, sebagai contoh Masyarakat Arab sebelum kedatangan agama Islam ditengah-tengah mereka, budaya menyambut tamu sudah terbiasa mereka lakukan, bahkan semakin banyak tamu yang datang kerumah mereka, maka akan terpandanglah status socialnya, merupakan bentuk penghinaan bagi mereka bila tamu sudah ada dirumah mereka, ada orang lain yang ingin menggangu atau mengancam nyawa tamu itu, tuan rumah siap memasang badan demi menjaga kenyaman tamu-tamu tersebut.

Termasuk bentuk aktualisasi ajaran islam terhadap masyarakat ini adalah berbuat baik dengan terangga, menghormati tamu, mencintai saudaranya, menjalin silaturahmi dengan sesama, saling menolong dan lain sebagainya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasannya nabi bersabda :”barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia tidak mengganggu tetangganya, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hai akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam”. Dalam versi Hadits yang lain ditambah kalimat : barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menjalin tali silatuRahim,” Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhori Muslim. Dalam kesempatan yang lain, Nabi pun bersabda,”tidak sempurna iman salah seseorang diantara kalian, sehingga ia mencintai saudaranya seperti halnya ia mencintai dirinya sendiri.”3

Laksana seseorang yang baru mengenal dunia maya, semua manusia mengalami keterkejutan budaya  Terlihat selain dampak wabah Corona juga kena wabah  kebingungan harus apa, bagaimana, dan kemana, . Dikala berjumpa dengan sesama muslim ataupun orang lain “budaya salaman” mestilah secara spontan akan dilakukan, namun dikala gelombang corona dan gulungan ombak pandemic ada disekitar kita, ekpresi yang terlihat ada keengganan untuk bersalaman.

Diantara mereka saling mencurigai, berprasangka negative seolah-olah dihadapan  mereka semua terpapar virus corona, yang dilakukan hanya menjaga jarak, tidak bersalaman, suara tidak jelas karena terhalang kain (masker). Sering terlihat dikala ada seseorang telah menjulurkan tangannya untuk bersalaman, akan tetapi lawan yang hendak diajak bersalaman menampakkan wajah tidak senang, bahkan ada kesan seolah-olah tidak saling mengenali.

Ini juga terlihat saat idul fitri dan idul adha ditengah-tengah wabah corona, yang biasanya saling mengunjungi. Budaya yang pertama mendapat benturan yakni budaya BERTAMU, Realita yang terlihat budaya itu tidak Nampak sama sekali, ironisnya banyak rumah nutup diri, bahkan pagar depan rumah terkunci sangat rapat, Budaya ditengah gulungan ombak Pandemi sangat tidak biasanya. Ada himbauan jangan mudik, kalau sayang sama keluarga, bahkan kue-kue yang biasanya beraneragaman dihidangkan dengan toples terbaru dan dipercantik, satupun tidak ada diatas meja, karena ada dua yang seolah-olah akan terjadi, pertama tamu yang mau makan ragu apakah kue-kue itu tidak mengandung virus corona, kedua dengan menghidangkannya akan memancing orang-orang untuk bertamu.

Ada kontra diksi antara bertamu yang merupakan perintah dari agama, karena Allah akan menjamin rezeki dan memperpanjang usia orang-orang yang senantiasa bersilaturahmi, artinya bersilaturahmi memperpanjang usia bukan memperpendek usia, dengan wabah pandemic ini, terasa sangat rumah-rumah sepi dari tamu, dan keraguan yang sangat untuk menerima tamu, juga tamu yang ingin berkunjung pun ragu apakah kedatangannya diterima atau sebaliknya.

Memang terlihat ditempat-tempat hajatan pernikahan biasanya acaranya tidak lepas dari amalan Marhaban, acaranya diperpendek dengan hanya berdoa bersama dipimpin oleh seorang Imam. Tapi ada juga saat ini sudah berjalan Arisan keluarga besar, Arisan Ikatan Suku, walaupun tetap menggunakan protocol Kesehatan.

Yang kedua budaya sungkem, rasanya bila tidak melakukan sungkem kepada Orangtua terasa masih menyimpan dosa dan kesalahan kepada beliau, sungkem bukan saja bersalaman biasa tetapi pengungkapan ganjalan-ganjalan di hati selama berinteraksi dengan Orangtua, maka jangan heran ketika sungkem tidak terasa airmata mengalir deras, terbawa perasaan dalam pengakuan dan pemintaan maafan dari orangtua. Budaya sungkem walau dalam masa pandemic ini tidak mesti diganti dengan salam corona, yakinlah bahwa ridho Allah terletak pada ridho kedua orangtua, takutlah kepada Allah, takutlah pada dosa kedurhakaan pada orangtua, bukan mala takut pada corona.

Ketiga yang biasanya budaya dari masjid, bapak-bapak akan berkumpul dahulu setelah menunaikan sholat id yang dikoordinir oleh imam untuk mengunjungi rumah-rumah, secara berjamaah, target rumah itu yakni rumah yang dia sholat id dan ia juga ikut dalam rombongan keliling itu, betapa indahnya budaya ini. Tentu budaya seperti ini masih bisa ditunda terlebih dahulu, walau ini baik, tapi saran dari pemerintah tentu lebih baik

Tentunya kita sepakat bahwa anak-anak harus didik dari kecil dari kanak-kanak, mereka akan mencontohkan kebiasaan dan budaya dari lingkungan sekitarnya, ada anak yang sudah terbiasa memanggil nama pada abangnya atau ayuknya, maka jangan berharap ketika besar ia akan memanggil kakak atau ayuk pada mereka. Anak-anak juga kenal dengan istilah anak sholeh anak sholehah, anak yang tahu adab, anak yang tahu bertata karma, bila ia dilatih untuk menghormati orangtuanya, menghormati orang lebih tua darinya, biasanya anak akan disuruh salaman bila berpapasan atau bertemu dengan orangtua, kesan orang lain akan menilai anak itu kurang ajar, kurang didikan bila mana ia tidak bersalaman dengan orangtua. Jangan sampai budaya tidak salaman dengan orangtua melahirkan generasi muda yang tidak menghormati orangtua atau orang yang lebih tua darinya, kalau ini terjadi maka generasi ini merupakan generasi yang tidak disukai oleh Rosulullah. Nabi Muhammad SAW bersabda :”Bukan golongan kami orangtua yang tidak menyayangi orang yang lebih muda, dan bukan golongan kami anak muda yang tidak menghormati orang yang lebih tua”.(HR. Al – Nasa’i)

Walau ditengah gulungan ombak Pandemi budaya keempat yakni budaya salaman tetap harus terjaga dengan cara-cara, Pertama setelah salaman maka kerjakan sholat sunah, karena sholat yang kita kerjakan biasanya diawali dengan berwudhu, kedua setelah bersalaman maka ambilah air wudhu karena di rukun-rukun wudhu ada mencuci kedua telapak tangan, ketiga setelah bersalaman segeralah membeli makanan karena kita akan punya alas an untuk mencuci tangan, keempat setelah bersalaman maka boleh kita kekamar mandi untuk mencuci tangan. Ini dilakukan bila ada diantara kita ragu terpapar virus corona tanpa meninggalkan budaya salaman. Sedih rasanya biasanya setelah sholat jumat beramai-ramai kita membentuk barisan untuk bersalaman, yang saat ini terjadi setelah menunaikan sholat jumat lantas jalan tidak sempat lagi mengucapkan Allahuma Antas Salam.

Catatan :

  1. Dalam bukunya “Dia Di Mana-mana”, Quraish Shihab, hal : 203, menjabarkan “kita bernafas setiap saat, menghirup dan menghembuskan udara. Ketika kita menarik nafas, oksigen membanjiri sekitar 300 juta ruang kecil (alveolus) kedalam paru-paru kita. Jumlah sebanyak itu diperlukan dan dirancang oleh Allah sedemikian rupa sehingga ia dapat berfungsi memperluas permukaan yang bersinggungan dengan udara. Tapi jumlah yang sedemikian banyak itu, diciptakan-Nya sedemikian rupa yakni dilipat dan dilipat sehingga tidak mengambil tempat terlalu banyak dalam rongga dada. Seandainya tidak dilipat,maka areal seluas lapangan tenis dapat ditutupinya. Ia juga dirancang demikian kecil dan sempurna untuk meningkatkan laju pertukaran oksigen dan karbondioksida. Sungguh Maha suci Allah, sang Pencipta itu. Pembuluh darah kapiler menyerap oksigen dalam sekejap dan membawanya ke jantung, lalu diteruskan ke seluruh bagian tubuh kita. Sel tubuh menggunakan oksigen itu dan melepaskan karbondioksida ke dalam darah lalu membawanya kembali ke paru-paru, di mana zat itu kemudian dikeluarkan. Itu semua terjadi hanya dalam waktu yang sangat sangat singkat. Tarik dan hembuskanlah nafas sekali tarik, anda akan melihat bahwa itu berlangsung kurang dari satu detik. Sekali lagi, Maha Suci Allah Sang Pencipta manusia. Setiap menit sekitar enam liter udara dihirup oleh paru-paru. Sedang paru-paru orang dewasa dapat menyimpan sekitar tiga liter udara. Karena itu, setelah sekitar setengah menit akan amat terasa kebutuhan kepada udara.
  2. Ali Nurdin, Quranic Society (Menelusuri Konsep Masyarakat Ideal dalam Al Quran, (Jakarta, Erlangga, 2006), h. 32. Pertama, keinginan manusia akan dewa yang selalu berada di dekatnya apabila dibutuhkan. Kebutuhan akan dewa dalam hidup sehari-hari banyak, untuk meramalkan masa depan, berkonsultasi dan meminta nasehat mengenai saat yang menguntungkan untuk berpeang, berdagang,berburu mengadakan perjalanan jauh. Apabila kebutuhan tersebut muncul diperlukan pikiran dan kehendak yang cukup kuat untuk menahan godaan mencari kepuasan melalui yang dekat dan yang kongkret. Bahkan itu mereka lakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, mereka menyembah berhala atau dewa itu hanya sebagai perantara. Kedua, kecenderungan untuk mengagungkan orang baik yang sudah meninggal, baik leluhur, kepala suku, maupun dermawan samapai tingkat dimana kemanusiaannya menjadi hilang dan berubah menjadi Tuhan. Idealisasi terhadap sifat-sifat baik dan tidak melihat sisi buruk sang tokoh merupakan kecenderungan yang sangat potensial untuk pembuatan berhala. Jika tidak dikendalikan, tokoh yang telah meninggal tersebut dengan mudah mengalami proses pendewaan (apoteosis).
  3. Dr. Abd. Rachman Assegaf, Studi Islam Kontesktual, Hal : 18

Sumber Gambar : https://maucash.id/dampak-virus-corona-covid19-terhadap-perekonomian-global

Sumarto sumarto

Respond For " Budaya Ditengah Gulungan Ombak Pandemic Covid – 19._ "