+62-852-27-281672
info@literasikitaindonesia.com

Bung Karno ; Sebagai Tahanan Politik, Tetap Bergerak untuk Indonesia Merdeka

[5/10/2019] Presiden Soekarno, di kenal juga dengan nama sebutan Bung Karno, Proklamator kemerdekaan Republik Indonesia, dengan segala perjuangan dan pengorbanan telah beliau lakukan untuk anak cucu generasi bangsa yang lebih baik dan sejahtera. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil bersama dari apa yang sudah beliau lakukan, mulai dari keberanian dalam menghadapi penjajah, strategi untuk memperoleh kemenangan, kelembutan hati dalam keluarga istri dan anak anak, menjadi teladan bagai segenap bangsa dan negara.

Tampilan di depan rumah pengasingan Soekarno, ada tulisan Rumah Kediaman Bung Karno pada waktu pengasingan di Bengkulu 1938 – 1942

Kami mengunjungi dan belajar di rumah pengasingan Soekarno yang berada di Kota Bengkulu. Ketika sampai di sana kita di hadapkan dengan luasnya halaman rumah pengasingan, taman-taman yang indah, sehingga membuat pengunjung dan wisatawan asing merasa nyaman, untuk melihat dan belajar tentang situs – situs sejarah yang ada di rumah pengasingan Soekarno. Masih tampak jelas bentuk rumah dan isi yang ada di dalam rumah, seperti tempat meja dan kursi tamu yang ada di depan rumah, kamar tidur presiden Soekarno, koleksi buku yang pernah di baca presiden soekarno dan beberapa baju seragam grup tonil Monte Carlo asuhan Soekarno semasa di Bengkulu.

Kostum perkumpulan sandiwara Monte Carlo, dimana Presiden Soekarno, menjadi sentral dalam pemeranannya, terdapat nilai – nilai perjuangan nasionalisme dan alat seni untuk menunjukkan bahwa Indonesia siap merdeka dengan kekuatan bersama

Rumah Pengasingan Bung Karno merupakan tempat Soekarno menjalani hukuman pengasingan sebagai tahanan politik. Soekarno diasingkan ke EndeFlores pada 14 Januari 1934. Ia diasingkan di sana selama empat tahun (1934-1938). Setelah itu, ia diasingkan ke Bengkulu. [dikutip dari wikipedia]

Rumah ini terletak di tengah Kota Bengkulu, tepatnya di jalan Sukarno Hatta Kelurahan Anggut Atas kecamatan Gading Cempaka. Awalnya, rumah tersebut adalah milik seorang pedagang Tionghoa yang bernama Lion Bwe Seng yang disewa oleh orang Belanda untuk menempatkan Soekarno selama diasingkan di Bengkulu. Soekarno menempati rumah itu pada 1938-1942. Di rumah ini terdapat barang-barang peninggalan Soekarno. [dikutip dari wikipedia]

Ada ranjang besi yang pernah dipakai Soekarno dan keluarganya, koleksi buku yang mayoritas berbahasa Belanda serta seragam grup tonil Monte Carlo asuhan Soekarno semasa di Bengkulu. Ada juga foto-foto Soekarno dan keluarganya yang menghiasi hampir seluruh ruangan dan yang tidak kalah menarik adalah sepeda tua yang dipakai Soekarno selama di Bengkulu. [dikutip dari wikipedia]

Ketika masuk dalam rumah pengasingan Presiden Soekarno, kita di hadapkan dengan ruang tamu, tempat berdiskusi dengan para pejuang kemerdekaan

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita laksanakan sebagai generasi bangsa, ketika berkunjung dan belajar di rumah pengasingan Soekarno yaitu; 1. Presiden Soekarno walaupun di tahan sebagai tahanan politik oleh Belanda, masih tetap bisa berkarya dan berjuang untuk tujuan yang menjadi impian rakyat Indonesia yaitu Kemerdekaan, 2. Dalam rumah pengasingan presiden Soekarno, tetap belajar, membaca buku, untuk membuka wawasan dan menemukan ide yang cemerlang, sebagai bentuk langkah strategi, 3. Masih ikut serta membimbing grup pementasan drama dengan nama Monte Carlo, dengan adegan – adegan perjuangan dan pengorbanan, sebagai bentuk ungkapan kejiwaan dalam seni, yang bisa membangkitkan semangat nasionalisme kebangsaan,

4. Menjaga dan melindungi keluarga, sebagai bentuk peran dari kepala rumah tangga, membimbing untuk menjadi generasi penerus dan cemerlang dalam membangun perubahan yang di lakukan presiden Soekarno pada masa tahanan politik, 5. Dimanapun berada masih memberikan semangat perjuangan bagi rakyat Indonesia, dengan memaksimalkan seluruh kesempatan dan peluang yang ada, walaupun di rumah tahanan politik penjajah, karena dengan di tahannya, timbul berbagai macam ide dan cara untuk mempersiapkan Indonesia merdeka pada tahun 1945.

Informasi tentang rumah pengasingan presiden Soekarno

Sumarto sumarto

Menulis tidak hanya menulis, tetapi menulis harus dengan pengetahuan, karena tulisan butuh pengakuan yaitu keilmuan menulis tentang apa yang ingin di tulis
Sumarto sumarto

Respond For " Bung Karno ; Sebagai Tahanan Politik, Tetap Bergerak untuk Indonesia Merdeka "