+62-852-27-281672
info@literasikitaindonesia.com

Fort Malborough; Sejarah Penjajahan di Tanah bengkulu, Dari Inggris, Belanda Hingga Jepang

[5/10/2019] Tanah bengkulu, banyak sejarah yang harus di pelajari, mulai dari rumah Ibu Fatmawati, rumah pengasingan Ir Soekarno sampai kepada benteng Marlborough yang di bangun oleh Inggris, kemudian di kuasai oleh Belanda, hingga Jepang dan di kuasai oleh Tentara Indonesia hingga anhirnya menjadi cagar budaya.

Ketika masuk dalam Benteng Marlborough kita, menjumpai tampilan depan tentang keberadaan benteng Marlborough, bagaimana Inggris [British] menjajah tanah Bengkulu 1714 – 1741, banyak dampak ekonomi dan sosial bagi pribmui

Memasuki benteng Marlborough yang kata sebagian orang “angker” memang benar, apalagi berkunjung nya ketika kemalaman, tapi Alhamdulillah, kami berkunjung waktu sore, masih banyak pengunjung yang datang ke benteng Marlborough dari berbagai daerah di Indonesia, sampai dengan wisata asing. Ketika hendak masuk ke Benteng Marlborough, kita di hadapkan dengan pintu utama yang besar dan tebal, berwarna hitam, hal ini menunjukkan sebagai pintu utama, ketika musuh menyerang.

Ketika masuk dalam benteng Marlborough, ada 3 makam yang kita temukan, yaitu makam dari Inggris, yang pernah menghuni benteng Marlborough dalam proses penjajahan di tanah Bengkulu
3 Makam yang ada di Benteng Marlborough, adalah petinggi dari Inggris yaitu Charles Murray, Thomas Parr dan Robert Hamilton

Masuk kedalam benteng Marlborough sebelah kanan dan kiri, ada ruangan tempat beberapa foto dan benda-benda sejarah yang bisa di lihat oleh para pengunjung, sampai kepada replika kapal yang digunakan penjajah Inggris dan Belanda untuk bisa sampai ke Tanah Bengkulu. Dalam benteng Marlborough banyak di temukan para tokoh-tokoh penjajah dari Inggris dan Belanda, seperti Sir Rafless dari Inggris, yang merupakan tokoh dalam penemuan bunga bangkai Raflesia.

Peran serta Sir Stamford Rafless dalam menemukan Bunga Bangkai di Tanah Bengkulu, sehingga menjadi icon Kota Bengkulu

Dalam ruangan benteng Marlborough, banyak gambar – gambar pribumi [masyarakat bengkulu ; suku rejang] yang menjadi korban akibat penjajahan Inggris, Belanda dan Jepang. Membuktikan bahwa penjajah banyak mengambil hasil bumi dari tanah bengkulu, yaitu rempah-rempah. Masyarakat Bengkulu di paksa untuk menanam rempah-rempah yang kemudian di jual murah kepada penjajah, atau bahkan sampai kepada memperbudak dan menyiksa pribumi.

Wajah Pribumi, Tanah Bengkulu, Suku Rejang

Tampak di pelataran benteng Marlborough banyak meriam, sebagai senjata yang digunakan penjajah, ketika terjadi perang dengan peluru bulat yang berat, untuk menghantam setiap para pemberontak yang datang, termasuk pribumi, yang melakukan perang kepada penjajah. Benteng Marlborough sangat lengkap dengan persenjataannya, sangat kuat dalam bangunannya, berada pada posisi strategis menghadap Kota Bengkulu dan berada dekat dengan pantai panjang, sehingga mudah dalam akses transportasi laut.

Meriam senajata yang digunakan penjajah dalam mengusir setiap yang melawan termasuk pribumi, Tanah Bengkulu

Benteng Marlborough (Inggris:Fort Marlborough) adalah benteng peninggalan Inggris di kota Bengkulu. Benteng ini didirikan oleh East India Company (EIC) tahun 17141719 di bawah pimpinan gubernur Joseph Callet sebagai benteng pertahanan Inggris. Benteng ini didirikan di atas bukit buatan, menghadap ke arah kota Bengkulu dan memunggungi samudera Hindia. Benteng ini pernah dibakar oleh rakyat Bengkulu; sehingga penghuninya terpaksa mengungsi ke Madras. Mereka kemudian kembali tahun 1724 setelah diadakan perjanjian. Tahun 1793, serangan kembali dilancarkan. Pada insiden ini seorang opsir Inggris, Robert Hamilton, tewas. Dan kemudian pada tahun 1807, residen Thomas Parr juga tewas. Keduanya diperingati dengan pendirian monumen-monumen di kota Bengkulu oleh pemerintah Inggris. [dikutip dari wikipedia]

Benteng Marlborough mengingatkan kita tentang pentingnya sejarah kemerdekaan Indonesia di tanah Bengkulu. Begitu besar pengorbanan yang diberikan tidak lagi harta bahkan jiwa dan raga di berikan untuk Indonesia merdeka aman adil dan sejahtera, sebagai generasi yang mengisi kemerdekaan, mari jaga Indonesia, rawat Indonesia, majukan Indonesia dengan berbagai prestasi dan keteladanan.

Sumarto sumarto

Menulis tidak hanya menulis, tetapi menulis harus dengan pengetahuan, karena tulisan butuh pengakuan yaitu keilmuan menulis tentang apa yang ingin di tulis
Sumarto sumarto

Respond For " Fort Malborough; Sejarah Penjajahan di Tanah bengkulu, Dari Inggris, Belanda Hingga Jepang "