+62-852-27-281672
info@literasikitaindonesia.com

Harapan Untuk Cucu

Oleh: M. Abdussalam Hizbullah

Siang itu cukup terik. Suhu panas siang ini semakin terasa dengan banyaknya orang yang sedang menunggu Bus kota di Halte ini. Di tengah kerumunan itu, tampak seorang gadis yang sedang asik membaca novel. Namanya jihan, membaca adalah salah satu kegemarannya dalam mengisi waktu luang. Balutan jilbab panjang berwarna pink menjadikannya terlihat anggun. Ia memilih untuk membaca sembari menunggu Bus di Halte ini. Entah mengisi waktu luang atau ia mencoba untuk acuh pada suhu panas siang ini. Ditengah keasyikannya membaca, sesekali ia tersenyum karena mendapati kisah lucu dari novel yang sedang ia baca.

“Ciiiiiiittt”. Tiba-tiba ia mendengar bunyi mendecit.

Jihan menoleh kedepan. Bus yang telah ditunggu olehnya dan puluhan orang di Halte ini telah datang. Sontak saja kerumunan orang tersebut perlahan bergerak menuju ke dalam Bus yang berwarna hijau tua itu. Jihan melipat halaman terakhir yang ia baca dari novel yang ia pegang. Setelah itu ia menutupnya dan memasukkanya ke dalam tas punggungnya. Bergegas ia turut bergerak mengikuti langkah kerumunan orang di depannya. Kali ini, Jihan memilih untuk masuk dari pintu belakang.

Bismillah”. Ucap Jihan sembari menaiki tangga di pintu Bus.

Sembari melangkah masuk, ia berpegangan pada besi yang menempel di samping kiri dan kanan pintu bus. setelah memastikan ia telah masuk ke dalam Bus, Ia menoleh ke kiri dan ke kanan  untuk mencari kursi yang masih kosong. Langkah sepatunya kala bersentuhan dengan lantai besi Bus tidak begitu terdengar karena keributan di dalam Bus. Mungkin juga karena ia saat ini mengenakan sepatu sneakers yang solnya berbahan dasar karet.

“Itu mbak, ada kursi kosong di tengah”. Tiba-tiba ia mendengar suara kenek bus yang setengah berteriak sembari menunjuk sebuah kursi yang kosong.

“Terimaksih bang”. Senyumnya terlihat ketika mengucapkan terimakasih pada kenek Bus itu.

Jihan berjalan perlahan menuju kursi yang ditunjuk oleh kenek bus tadi. Ketika sampai di samping kursi itu, ia melihat seorang kakek yang duduk pada kursi yang sama, tetapi berada di sebelah jendela. Jihan tersenyum pada kakek tersebut. Kakek itu membalas senyumnya.

“Silahkan duduk nak”. Ujar kakek tersebut mempersilahkan ia duduk di sebelahnya.

“Terimakasih kek”.  Jawab Jihan sembari duduk di kursi itu dengan tersenyum.

Jihan meletakkan tas punggungnya di depan agar tidak terhimpit jika ia duduk. Setelah memastikan tidak ada benda asing di atas kursi itu, ia pun mendudukinya. Berbeda saat ia masih berada di Halte, kali ini ia bisa merasakan panasnya suhu siang ini karena Bus yang ia naiki ternyata tidak memiliki pendingin udara. Tentu saja hal ini menjadikan udara di dalam Bus terasa sedikit sesak. Beberapa penumpang terlihat sedang berkipas ria untuk mengurangi suhu panas yang mereka rasakan. Sedangkan Jihan hanya mencoba mengatur tempo napasnya agar bisa menjadikan tubuhnya terbiasa dengan kondisi udara di sini.

Seluruh kursi Bus sudah terisi semua, tetapi tidak terlalu penuh seperti hari biasanya. Tidak ada penumpang yang berdiri karena tidak mendapatkan kursi. Biasanya, Bus kota ini selalu penuh sesak dengan penumpang. Bahkan banyak sekali penumpang yang berdiri karena tidak mendapatkan kursi. Setelah penumpang masuk semua, supir Bus mulai memacu Bus ini meninggalkan Halte.

Jihan menoleh ke kiri. Ia melihat kakek yang berada disebelahnya sedang asik memandangi bangunan-bangunan yang dilewati Bus ini. Setelah melihat sebuah gedung yang cukup tinggi, kakek itu mengalihkan pandangannya ke dalam Bus. Hal ini membuat ia melihat Jihan yang juga sedang melihat ke arahnya. Kakek tersebut tersenyum, kemudian ia bertanya kepada jihan. “Mau kemana nak?”.

“Mau pulang kek”.

“Oh, Begitu, memangnya nak …”. kalimat kakek tersebut terhenti karena ia mencoba mengingat apakah ia sudah mengetahui nama gadis yang berada di depannya atau tidak. Jihan yang menyadari kegelisahan kakek tersebut sontak berkata. “Nama aku Jihan kek, panggil saja Jihan”.

“Hahaha, baiklah”. Ujar kakek sedikit tertawa. Tawanya terlihat menambah lipatan kulitnya yang mulai keriput. “Nak Jihan ini dari mana nak?”.

“Saya dari Panti Asuhan Kasih Ibu kek”.

“Panti Asuhan yang berada di dekat Masjid Syuhada?”.

“Iya kek, kakek tahu?”.

“Ya tentu kakek tahu, rumah kakek ada di dekat Panti Asuhan itu nak”. Jelas kakek pada Jihan. “Nak Jihan Ngapain ke panti asuhan itu? Mengantarkan sumbangan?”. Tanya kakek.

“Tidak kek, aku di minta pengurus Panti Asuhan itu untuk membantu anak-anak disana belajar Ngaji kek”. Jelas Jihan.

Kakek tersebut mengubah posisi duduknya. Ia terlihat antusias setelah mendengar penjelasan Jihan.

“Wah, ternyata nak Jihan ini yang mengajari anak-anak disana mengaji ya?”. Ujar kakek pada Jihan. Jihan menanggapinya dengan tersenyum sembari sedikit menganggukkan kepalanya. Kakek itu melanjutkan perkataannya. “Yah, anak-anak sekarang ini memang harus diajak untuk mengenal al-Qur’an nak Jihan. Mengenal kitab suci agamanya supaya mereka juga mengenal agama yang mereka peluk”.

“Ya, benar itu kek, sangat miris sekali ketika melihat banyak sekali anak-anak yang pergaulannya sangat jauh dari agama. terlebih lagi di zaman yang canggih seperti ini. Anak-anak usia 5 tahun saja sudah banyak yang menghabiskan waktunya dengan gadget kek”. Ujar jihan menyetujui perkataan kakek tersebut.

“Benar sekali nak. Bahkan cucu kakek juga demikian. Di usianya yang sekarang, dia itu masih belum lancar ngajinya. Padahal sudah kelas dua SMP”. Kakek tersebut mulai bercerita. Ekspresi wajahnya sedikit berubah. Ada kesedihan yang terlihat di wajahnya. “Dulu, ketika cucu kakek baru tamat SD, kakek meminta orang tuanya untuk menyekolahkannya di Pesantren nak. Ketika cucu kakek menyetujui hal itu, kakek merasa bahagia sekali. Bahkan kakek ikut mengantarkannya ke Pesantren”.  Kakek itu melanjutkan ceritanya. Kali ini, ada sedikit kebahagiaan di raut wajahnya. Mungkin itu adalah ingatan yang membahagiakan bagi dirinya.

“wah, bagus dong kek”. Ujar Jihan mendengar cerita kakek.

Bus yang mereka tumpangi memperlambat kecepatannya karena tiba di perempatan jalan. Traffic light sedang menampilkan lampu berwarna merah. Tanda kendaraan yang berada pada jalur itu harus berhenti. Ketika Bus sedang berhenti menunggu lampu hijau menyala, seorang pengamen masuk ke dalam Bus untuk bernyanyi. Pengamen itu membawa sebuah gitar berwarna cokelat sebagai alat musik yang akan mengiringinya bernyanyi.  Biasanya, si pengamen akan berada di dalam Bus sampai di perempatan berikutnya. Jihan yang sedang antusias mendengar cerita si kakek tidak begitu menghiraukan pengamen yang mulai bernyanyi. Tetapi, samar-samar, ia mendengarkan petikan gitar si pengamen. Si pengamen sedang menyanyikan lagu Celengan Rindu yang dipopulerkan oleh Fiersa Besari. Sementara itu, Bus kembali bergerak karena lampu hijau sudah menyala.

Si kakek menarik nafas yang cukup dalam. Setelah itu, ia melanjutkan ceritanya. “Ya, memang bagus nak Jihan, tetapi itu akan bagus jika cucu kakek betah di Pesantren itu”. Kakek itu menghentikan ceritanya. Suaranya sedikit serak. Jihan masih diam menunggu kakek melanjutkan ceritanya.

“Mungkin karena cucu kakek itu sedikit manja, jadinya dia tidak kerasan mengikuti kegiatan-kegiatan di Pesantren. Hanya dalam kurun waktu satu bulan, cucu kakek meminta untuk keluar dari Pesantren. Dia bilang kalau dia tidak betah dengan rutinitas Pesantren yang harus diikutinya. Cucu kakek itu sering sekali mendapat hukuman karena dia masih terbiasa dengan kebiasannya di rumah. Dia sering bangun siang, tidak mencuci piring, tidak mau belajar. Tentu saja dia mendapat hukuman”. Jelas kakek. Ia kembali menarik napas panjang.  Setelah itu ia kembali melanjutkan ceritanya. “Kakek sangat sedih kala itu. Padahal kakek ingin sekali cucu kakek itu belajar di Pesantren supaya dia memiliki ilmu agama yang baik, pinter ngaji. Tapi, ya kalau dia tidak betah mau gimana lagi kan? Dari pada dipaksakan, tetapi  hasilnya malah tidak baik”.

Jihan mendengarkan cerita kakek itu dengan seksama. Hanya saja, selama kakek bercerita, Jihan tidak melihak ke wajah kakek. Ia menundukkan pandangannya atau mengalihkan pandangannya ke sekitar. Setelah kakek bercerita, Jihan menatap ke arah wajah kakek itu. Ia melihat mata kakek berkaca-kaca, tampak sekali bahwa kakek sangat sedih karena cucunya tidak lagi belajar di Pesantren. Jihan tidak tahu harus bersikap bagaimana ketika itu. Ditengah kebingungannya, Jihan berujar. “Yah, mungkin belum jalan cucu kakek untuk belajar di Pesantren kek. Mungkin nanti kakek bisa minta lagi cucu kakek untuk belajar di Pesantren setelah taman SMP”.

Kakek itu tersenyum mendengar ucapan Jihan. “Ya nak, mungkin memang belum waktunya untuk dia belajar di Pesantren nak”. Ujar kakek sembari mengusap air mata yang masih tertampung di kelopak matanya. Jihan yang mendengarnya hanya mangut-mangut. Ia sangat memahami keinginan kakek itu agar cucunya dapat belajar agama dengan baik.

Bus ini kembali menurunkan kecepatannya. Kali ini bukan karena traffic light, tetapi karena Bus telah sampai di Halte pemberhentian. Halte ini adalah Halte yang menjadi tujuan Jihan. Ia harus turun. “Kek, aku duluan ya, aku harus turun di Halte ini”. Ujar Jihan kepada kakek.

“Baiklah nak, hati-hati. Terimakasih sudah mau mendengar cerita kakek. Kapan-kapan kalau sedang ke Panti Asuhan, mampirlah ke rumah kakek, tanya saja dengan ibu Asih pengurus Panti Asuhan itu rumah bapak Ridwan”.

“Baiklah kek, Insyaallah kapan-kapan aku mampir ke rumah kakek”.

Jihan pun berdriri. Ia kembali menyandang tas punggungnya.  Seusai menyampaikan senyumnya pada si kakek, Jihan melangkahkan kakinya keluar dari Bus ini. Tidak lama setelah ia turun, beberapa penumpang yang menunggu di Halte memasuki Bus menggantikan Jihan dan beberpa penumpang lainnya yang turun di Halte ini. Bus pun kembali bergerak meninggalkan Halte. Begitu juga Jihan. Ia telah melangkah menuju ke rumahnya.

Sembari berjalan, Jihan bergumam dalam hati, “Yah, terkadang tidak semua harapan bisa langsung diwujudkan. Tapi, semoga saja harapan kakek tadi bisa terwujud. Ya Allah, semoga saja cucu si kakek mau belajar di Pondok Pesantren supaya dia lebih dekat dengan-Mu ya Allah”. Perlahan, langkahnya semakin dekat ke rumahnya. Jihan menarik napas dalam sembari berjalan. Senyumnya tampak jelas terukir di wajahnya.

Sumarto sumarto

Menulis tidak hanya menulis, tetapi menulis harus dengan pengetahuan, karena tulisan butuh pengakuan yaitu keilmuan menulis tentang apa yang ingin di tulis
Sumarto sumarto

Respond For " Harapan Untuk Cucu "