+62-852-27-281672
info@literasikitaindonesia.com

Isra Mi’raj dan Spirit Perdamaian

IsraMiraj dan Spirit Perdamaian

Parluhutan Siregar
(Sekretaris Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Pekanbaru) Komunitas Literasi Pekanbaru.

Peringatan IsraMiraj Nabi Muhammad saw oleh masyarakat muslim merupakan tradisi yang penting dan penuh makna. Sebab melalui sejarah IsraMiraj inilah kita dapat mengambil ibrah dari setiap kisah perjalanan hidup Rasulullah saw sebagai manusia sempurna yang dikirim Tuhan untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Dalam sejarah kerisalaan Nabi Muhammad SAW peristiwa IsraMiraj merupakan bagian dari puncak perjalanan spritual yang sarat dengan makna. Kita tahu salah satu kado terindah yang diterima Nabi Muhammad saw dari peristiwa IsraMiraj itu adalah perintah sholat.

Sholat merupakan ibadah yang sangat sarat makna dan pesan sosial. Salah satu fungsinya adalah untuk mencegah seseorang jatuh pada perbuatan keji dan munkar. Allah SWT berfirman “ sesungguhnya shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan buruk”.(QS. Al-Ankabut:45) Maka orang yang beriman dengan belajar dari IsraMiraj maka tidak melakukan tindakan tindakan yang dapat merugikan dirinya, keluarga, bangsa dan kehidupan manusia.

Salah satu bentuk kemunkaran yang sedang melanda bangsa kita akhir- akhir ini adalah virus kebencian yang mengoyak tali persaudaraan. konflik-konflik horizontal dalam dalam bentuknya yang variatif masih saja sering terjadi. oleh karena itu, mari kita bingkai makna ibadah sholat dalam konteks IsraMiraj sebagai pesan perdamaian kehidupan berbangsa.

Secara normatif, sholat adalah aktivitas yang dimulai dengan takbiratul al-Ikram, yakni mengucapkan kalimat Allahu Akbar sebagai simbol pengharaman atas segala tindakan yang berhubungan dengan kemanusian (hablum minanas). Pada kondisi seperti ini, semua aktivitas yang berdimensi horizontal diharamkan agar seseorang dapat memusatkan perhatian hanya kepada Allah semata, harapannya kita bisa mencapai maqam ihsan, bahwa kita menyembah Allah seolah-olah melihat-Nya dan seandainya kita tidak dapat melihat-Nya kita harus yakin Allah melihat kita.

Itulah sholat yang khusyuk yakni sholat yang dapat merasakan kehadiran Tuhan dan kita sedang berdialog secara intensif dengan-Nya. Kesadaran seperti ini menumbuhkan sebuah prinsip bahwa hanya Allah tempat bernaung, tempat memohon, tempat melabuhkan segala problematika hidup, sekaligus muara yang mengabulkan segala cita-cita. Itulah alasannya pada setiap gerakan sholat diiringi dengan kalimat Allahu Akbar. Sebagai penegasan bahwa Dia Maha besar lebih besar daripada apa yang digambarkan akal. Dia Maha kuat yang tidak bisa dikalahkan oleh siapapun. Dia Maha penyayang sayang-Nya tidak terbilang, Maha pengasih tidak pilih kasih. Dalam pengertian seperti inilah, penghayatan Ibadah sholat kita benar-benar memasuki dimensi vertikal yang sangat intim, dekat dan intensif dengan Tuhan kita.

Disisi lain sholat tidak boleh berhenti hanya pada dimensi vertikal, tetapi makna ibadah sholat mesti menembus pada wilayah horizontal. Tahapan horizontal ini disimbolkan dengan ucapan salam pada akhir sholat. Ucapan assalmualikum sambil menoleh ke kanan dan ke kiri itu mengandung pesan doa untuk keselamatan terhadap orang-orang di sekitar kita. bahkan dalam perspektif kaum sufi ucapan itu bukan hanya bersofat verbal belaka, melainkan dalam lubuk hati benar-benar tersimpan harapan dan optimisme bagi umat manusia, para malaikat, bahkan seluruh binatang melata dijagat raya.

Karena itu dalam konteks kemanusiaan, melalui ucapan salam dalam shalat itu setiap kaum muslim dituntut untuk melakukan solidaritas sosial kepada orang-orang disekitar kita. kita mengharapkan kebahagiaan orang lain dan tidak rela hanya menikmati kebahagiaan sendiri saja. Dengan kata lain, salam penutup dalam ibadah sholat adalah simbol solidaritas sosial, lambang kesetiakawanan, dan lambang kesetiakawanan kemanusiaan universal.

Dengan demikian, sebagaimana makna salam secara harfiah yakni keselamatan dan kedamaian, melalui ikrar salam itu, kita berupaya menebarkan orama kedamaian, keselamatan, kasih sayang dan kesejahteraan bagi sesama umat manusia. Pertautan antara pesan kalimat takbir diawal sholat sebagai simbol keimanan yang bersifat vertikal, dan ucapan salam diakhir sholat sebagai simbol perdamaian yang bersifat horizontal bagaikan benda dengan bayangannya tidak bisa dipisahkan.

Pada titik inilah menjadi seorang muslim adalah menjadi seorang yang senantiasa menebar kedamaian, persahabatan, kesetiakawanan, kasih sayang dan kesejahteraan baik sesama muslim maupun umat manusia. Itulah relevansi pesan moral IsraMiraj yang bisa kita petik bersama dalam membangun harmonisasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jika spirit kedamaian, solidaritas sosial, kasih sayang dan toleransi ini mampu kita hembuskan terhadap sesama saudara kita yang berada dibawah payung besar bernama Indonesia, maka secara metaforis kita telah melakukan IsraMiraj yakni pengalaman pencerahan spritual, sekaligus sosial.

Wallahu `alam bis Showab.

Sumarto sumarto

Menulis tidak hanya menulis, tetapi menulis harus dengan pengetahuan, karena tulisan butuh pengakuan yaitu keilmuan menulis tentang apa yang ingin di tulis
Sumarto sumarto

Respond For " Isra Mi’raj dan Spirit Perdamaian "