+62-852-27-281672
info@literasikitaindonesia.com

“Mahasiswa” Berkomunikasi dengan “Dosen”

Ardiansyah – UIN STS Jambi – Komunitas Literasi

Sudah menjadi kewajiban mahasiswa dan mahasiswi untuk berperilaku yang sopan dan baik terhadap dosen atau orang yang lebih tua. Seorang mahasiswa dan mahasiswi harus memberikan perilaku yang baik guna mendapatkan ilmu dan wawasan yang dalam dari setiap dosen yang mengajarkan ilmu kepadanya. Selain mempelajari ilmu pengetahuan di dalam kampus, mahasiswa juga harus mampu memelajari akhlak dan juga berperilaku.

            Namun tidak semua mahasiswa dan mahasiswi mampu memperoleh ilmu tentang akhlak dan berperilaku tersebut selama dikampus amaupun diluar kampus, terutama cara berperilaku dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan dosen atau orang yang lebih tua. Sehingga pada beberapa kasus di dunia perkuliahan seringkali muncul masalah antara mahasiswa atau mahasiswi dengan dosennya sendiri. Baik itu kasus biasa akibat kesalah pahaman antara mahasiswa atau mahasiswi dengan dosen maupun masalah yang timbul akibat perilaku mahasiswa atau mahasiswi yang kelewat batas dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan dosennya.

            Misal saja, kasus perselingkuhan dosen dengan mahasiswinya. Jika berita tersebut sampai kepada masyarakat umum, tentu masyarakat akan langsung menyalahkan dosen yang bersangkutan. Memang, dosen adalah guru yang harus memberikan contoh yang baik atau teladan kepada mahasiswa nya, namun apakah dosen juga bukan manusia yang pasti memiliki kelemahan dan juga kesalahan? Namun yang disesalkan adalah sikap atau perilaku mahasiswa terutama mahasiswi kepada dosen yang seringkali diluar batas kewajaran dalam berinteraksi, juga termasuk cara berkomunikasi, baik itu di dunia nyata maupun di dunia maya melalui media sosial semisal whatsapp.

            Tentu, jika mahasiswi mampu bersikap baik dan sopan sesuai dengan batas kewajaran dalam berinteraksi dan berkomunikasi, baik itu di dunia nyata maupun didunia maya, semestinya segala hal-hal buruk yang dikhawatirkan terjadi antara dosen dan mahasiswa atau mahasiswinya mampu diredam.

Dalam kehidupan akademik di lingkungan perkuliahan, mahasiswa tidak terlepas dengan bergaul dengan dosen. Seperti:

Menegur sapa terhadap dosen

Realitas sekarang ini banyak dari mahasiswa yang melupakan hal ini, padahal dalam bertegur sapa atau mengucapkan salam termasuk yang ada dalam syari’at islam, seperti sabda Nabi Muhammad saw yang diriwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Seorang pengendara hendaknya mengucapkan salam kepada pejalan kaki dan pejalan kaki mengucapkan salam kepada orang yang duduk dan jamaah yang beranggota lebih sedikit mengucapkan salam kepada jamaah yang beranggota lebih banyak. (Shahih Muslim No.4019)

Jadi atas dasar ini seorang mahasiswa pada khususnya dan umat islam pada umumnya dianjurkan untuk saling mengucapkan salam sebagai tanda saling menghoramati. Dan antara mahasiswa dan dosennya hal ini perlu diterapkan di lingkungan kampus dan dimana saja ketika berjumpa denga dosen.

Memperhatikan pada waktu pembelajaran

Ketika kegiatan perkuliahan sedang berlangsung mahasiwa seharusnya memperhatikan ketika ada dosen yang sedang mengajarkan suatu mata kuliah dan memperhatikan dengan seksama. Allah swt. berfirman:

Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, Maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”. (Q.S. Al-Kahfi: 70)

Hal ini pernah disinggung nabi dalam sabda beliau yang yang diriwayatkan jarir bin abdillah ra. : “Jarir bin Abdillah mengatakan bahwa Nabi saw bersabda kepadanya pada waktu mengerjakan haji Wada’, “Diamkanlah manusia!” Lalu beliau bersabda, “Sesudahku nanti janganlah kamu menjadi kafir, di mana sebagian kamu memotong leher sebagian yang lain.” (H.R. Bukhori).

Bertolak dari al-qur’an dan hadis ini seharusnya mahasiwa harus memperhatikakan hal-hal yang disampaikan oleh dosen. Tapi dalam realitas kenyataan banyak mahasiswa yang tidak memperhatikan ketika dosen sedang menjelaskan sesuatu, perbuatan seperti ini sebenarnya dapat menjadikan perbedaan pemahamam yang terjadi diantara mahasiswa. Jadi tingkat pemahaman mahasiswa tergantung pada tingkat perhatian mahasiswa terhadap penjelasan yang disampaikan.

Jangan terlalu banyak bertanya.

Maksud dari hal ini adalah mahasiswa jangan banyak bertanya kepada dosen jika belum berusaha untuk memahami suatu pelajaran yang diberi oleh dosen, jadi mahasiswa bertanya hanya dengan maksud untuk mempersulit dosen dalam menjawab pertanyaan, padahal hal ini akan membingungkan mahasiswa itu sendiri terhadap jawaban dosen tersebut. Hal serupa pernah ada di zaman Nabi Musa as., pada saat terjadi kasus pembunuhan di kalangan mereka. Mereka meminta kepada Nabi Musa as., agar dapat mengungkap kasus pembunuhan tersebut, dan Nabi Musa as. Memerintahkan kepada mereka untuk mencari sapi, tapi mereka tidak langsung mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Nabi Musa., mereka malah menanyakan hal-hal yang mempersulit mereka sendiri. Allah berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 101:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”. (Q.S. Al-Maidah: 101)

Jadi seorang mahasiswa janganlah bertanya akan sesuatu sebelum berusaha memahami materi yang disampaikan oleh dosen. Jika belum jelas dengan materi yang diberikan dosen berulah bertanya.

Perilaku – perilaku tersebut merupakan perilaku sewajarnya yang harusnya ditunjukkan oleh mahasiswa dan mahasiswi dalam berinteraksi dengan dosen di dunia nyata. Namun dalam dunia maya pun ada batas-batasnya, seperti:

Diingatkan bukan dipancing.

Di zaman modernisasi sekarang ini yang mana telah hadir pola komunikasi chating yang membuka peluang siapapun untuk lebih bebas dan lelausa dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan siapapun dan dimana pun, salah satu penikmatnya adalah mahasiswa. Bahkan pola komunikasi chating mampu menyampaikan pesan bukan hanya sekedar pesan, tapi juga termasuk emosi yang ingin disampaikan, baik itu senang, sedih, tertawa dan lainnya.

Seharusnya kemajuan tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh siapapun yang menggunakannya, apalagi seorang mahasiswa maupun dosen dalam berkomunikasi dan berinteraksi. Walau hanya antara mahasiswa atau mahasiswi dan dosennya, komunikasi dan interaksi harus tetap dalam batas kewajaran anatara Guru dan Murid.

Dosen harus memberikan teladan yang baik, namun mahasiswa atau mahasiswi harus tetap siap siaga untuk mengingatkan jika Guru nya telah salah ataupun khilaf, bukan malah memancing untuk berlaku yang tidak sewajarnya didalam komunikasi chating.

Tahu waktu dalam berkomunikasi dengan dosen

Walau komunikasi chating bisa dilakukan dimanapun dan kapan pun, seorang mahasiswa atau mahasiswi harus tahu akan waktu-waktu yang pantas untuk menghubungi dosennya. Tidak larut malam apalagi hingga membahas hal-hal yang sangat privasi dari kehidupan masing-masing. Semua itu dilakukan agar apa yang dikhawatirkan terjadi antara mahasiswa atau mahasiswi dengan dosennya dapat diminimalisir, yaitu dengan penerapan etika dan batasan dalam berkomunikasi dan berinteraksi antara mahasiswa atau mahasiswi dengan dosennya.

Sumarto sumarto

Menulis tidak hanya menulis, tetapi menulis harus dengan pengetahuan, karena tulisan butuh pengakuan yaitu keilmuan menulis tentang apa yang ingin di tulis
Sumarto sumarto

Respond For " “Mahasiswa” Berkomunikasi dengan “Dosen” "