
CURUP – Kampus yang maju bukanlah kampus yang menutup diri dari kritik, melainkan kampus yang mampu membuka ruang dialog, menerima masukan, dan menjadikan kritik sebagai energi untuk melakukan perubahan. Dalam kehidupan perguruan tinggi, mahasiswa memiliki peran strategis untuk membangun budaya akademik yang demokratis, salah satunya melalui aktivitas jurnalistik kampus dan kampus mendorong Mahasiswa Menjadi Jurnalis Kampus yang Kritis, Profesional, dan Bertanggung Jawab.
Pesan tersebut menjadi salah satu gagasan penting dalam kegiatan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) yang diselenggarakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Gelora Parrhesia IAIN Curup. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan IAIN Curup sebagai upaya membangun generasi jurnalis kampus yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan integritas dalam menjalankan aktivitas pers mahasiswa.
Kegiatan PJTD dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan IAIN Curup, Dr. Sagiman, M.Kom. Dalam sambutannya, beliau mengajak seluruh mahasiswa untuk bersama-sama membangun IAIN Curup menjadi perguruan tinggi yang maju, berprestasi, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Menurutnya, kemajuan kampus tidak hanya menjadi tanggung jawab pimpinan dan dosen, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif mahasiswa. Salah satu bentuk kontribusi mahasiswa adalah melalui peran jurnalis kampus yang mampu menyampaikan informasi, mengangkat prestasi, menyuarakan aspirasi, serta memberikan kritik dan masukan yang konstruktif bagi kemajuan institusi.
Peran pers mahasiswa menjadi penting karena kampus merupakan ruang intelektual yang harus tumbuh dengan tradisi berpikir kritis, keterbukaan informasi, dan kebebasan menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab.
Jurnalis Kampus Harus Memiliki Integritas
Dalam sesi penyampaian materi, Dr. Sumarto, M.Pd.I., Dosen IAIN Curup, Pimpinan Penerbit Buku Literasiologi dan Literasi Kita Indonesia, sekaligus Pembina Lembaga Pers Mahasiswa LPM Gelora Parrhesia, menekankan bahwa menjadi jurnalis kampus bukan sekadar kemampuan menulis berita, mengambil gambar, melakukan wawancara, atau mempublikasikan informasi melalui media digital.
Lebih dari itu, jurnalis kampus harus memiliki integritas, keberanian intelektual, tanggung jawab moral, dan komitmen terhadap kebenaran. “Mahasiswa yang menjadi jurnalis kampus harus memiliki integritas. Jangan hanya mengejar kecepatan dalam menyampaikan berita, tetapi harus mengutamakan kebenaran, melakukan verifikasi informasi, menjaga independensi, dan mempertanggungjawabkan setiap karya jurnalistik yang dipublikasikan,” menjadi pesan penting dalam materi yang disampaikan.
Ia menjelaskan bahwa pers mahasiswa memiliki posisi strategis dalam membangun ekosistem akademik yang sehat. Mahasiswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga harus mampu menjadi produsen informasi yang mendidik, mencerahkan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat kampus.
Karena itu, jurnalis kampus harus memahami perbedaan antara fakta, opini, asumsi, dan informasi yang belum terverifikasi. Kemampuan melakukan wawancara, observasi, penelusuran data, serta menyusun berita berdasarkan prinsip jurnalistik menjadi kompetensi dasar yang harus dimiliki. Sehingga teman – teman mahasiswa bisa membuat berita yang baik dan benar serta berdampak pada perbaikan dan kemajuan Kampus.
Kebebasan Pers dan Keberanian Menyampaikan Kritik
Salah satu poin penting yang menjadi perhatian dalam pelatihan tersebut adalah prinsip kebebasan pers. Menurut Dr. Sumarto, kebebasan pers merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi dan budaya akademik di perguruan tinggi. Kebebasan pers memberikan ruang kepada mahasiswa untuk menyampaikan informasi, mengemukakan pendapat, melakukan pengawasan sosial, serta memberikan kritik terhadap berbagai kebijakan dan dinamika kehidupan kampus.
Namun, kebebasan pers bukan berarti kebebasan tanpa batas. Kebebasan tersebut harus dijalankan dengan berpedoman pada etika jurnalistik, akurasi informasi, kepentingan publik, dan tanggung jawab terhadap dampak pemberitaan. “IAIN Curup harus menjadi kampus yang maju dengan keterbukaan terhadap kritik membangun dari mahasiswa jurnalis kampus. Jangan melihat kritik sebagai ancaman, tetapi jadikan kritik sebagai bahan evaluasi dan instrumen perbaikan untuk meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan, tata kelola kelembagaan, dan prestasi kampus,” tegasnya.
Ia juga mengajak mahasiswa agar tidak takut menyampaikan fakta dan aspirasi melalui karya jurnalistik. Pers mahasiswa harus berani mengangkat persoalan yang berkaitan dengan kepentingan mahasiswa, kualitas pelayanan akademik, fasilitas pendidikan, kegiatan kemahasiswaan, prestasi, hingga berbagai kebijakan kampus.
Kritik yang disampaikan berdasarkan fakta dan disertai solusi merupakan bentuk kepedulian terhadap kemajuan institusi. Sebaliknya, pemberitaan yang tidak terverifikasi, mengandung fitnah, atau bertujuan menjatuhkan pihak tertentu justru dapat merusak kepercayaan publik terhadap pers mahasiswa.
Membangun Tradisi Akademik yang Kritis dan Terbuka
Keberadaan LPM Gelora Parrhesia di lingkungan IAIN Curup diharapkan menjadi bagian dari penguatan budaya literasi, demokrasi, dan kebebasan berekspresi di kalangan mahasiswa. Pers mahasiswa memiliki ruang untuk menjalankan fungsi informasi, pendidikan, kontrol sosial, dan penyampaian aspirasi. Melalui karya jurnalistik, mahasiswa dapat mendokumentasikan perjalanan kampus, mempublikasikan berbagai prestasi, mengangkat gagasan akademik, serta menyuarakan persoalan yang membutuhkan perhatian bersama.
Dalam konteks tersebut, jurnalis kampus harus mampu menjaga keseimbangan antara sikap kritis dan sikap konstruktif. Menjadi kritis bukan berarti selalu mencari kesalahan, melainkan memiliki kemampuan membaca persoalan, menganalisis kebijakan, menyampaikan fakta, dan menawarkan perspektif untuk perbaikan.
Kampus yang sehat adalah kampus yang memberikan ruang bagi perbedaan pandangan. Pimpinan perguruan tinggi, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa perlu membangun komunikasi yang terbuka agar setiap persoalan dapat dibicarakan secara objektif dan akademis. Dengan demikian, kebebasan pers mahasiswa bukan hanya bermanfaat bagi organisasi pers, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun tata kelola perguruan tinggi yang transparan, partisipatif, dan akuntabel.
PJTD Menjadi Langkah Awal Melahirkan Jurnalis Kampus Profesional
Pelaksanaan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar oleh LPM Gelora Parrhesia menjadi langkah awal untuk membekali mahasiswa dengan kompetensi jurnalistik sekaligus menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya etika dan integritas dalam dunia pers. Melalui kegiatan ini, mahasiswa lintas program studi diharapkan mampu mengembangkan keterampilan menulis berita, melakukan wawancara, menyusun laporan jurnalistik, mengelola media publikasi, serta memahami tanggung jawab sosial seorang jurnalis.
Lebih jauh, pelatihan ini diharapkan melahirkan kader-kader pers mahasiswa yang tidak hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga mampu berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, budaya literasi, dan kemajuan IAIN Curup. Jurnalis kampus harus menjadi bagian dari solusi. Mereka perlu mengangkat cerita tentang mahasiswa berprestasi, kegiatan akademik, inovasi dosen, pengabdian kepada masyarakat, serta berbagai potensi kampus yang layak diketahui publik. Pada saat yang sama, mereka juga harus menjalankan fungsi kontrol sosial dengan menyampaikan kritik secara objektif dan bertanggung jawab.
Pada akhirnya, kemajuan IAIN Curup membutuhkan partisipasi seluruh warga kampus. Pimpinan yang terbuka, dosen yang inspiratif, mahasiswa yang berprestasi, serta pers mahasiswa yang independen dan berintegritas merupakan kekuatan penting dalam membangun perguruan tinggi yang berkualitas. Menjadi jurnalis kampus bukan sekadar belajar menulis berita, tetapi belajar menjaga kebenaran, merawat kebebasan, menyuarakan aspirasi, dan membangun perubahan. Pers mahasiswa yang berintegritas adalah salah satu pilar penting untuk mewujudkan IAIN Curup yang maju, berprestasi, terbuka, dan berdampak bagi masyarakat. (Sum)
Dokumentasi :
