+62-852-27-281672
info@literasikitaindonesia.com

Merdeka, Menjadi Orang yang Bebas Tapi Memiliki Nilai, Taat Norma._

Merdeka, Menjadi Orang yang Bebas Tapi Memiliki Nilai, Taat Norma._

Merdeka adalah kebebasan jiwa dan raga yang sesuai dengan nilai dan norma, buka Bebas sesukanya dan semaunya. Merdeka harus ada nilai yang bisa menjadi teladan bagi orang lain. Merdeka adalah hak tetapi ada kewajiban yang harus di penuhi. Merdeka kita merdeka harus dengan proses belajar, sehingga bisa di katakan Merdeka._

Ketika di hadapkan dengan kondisi Covid 19, apakah kita bisa merdeka, tentunya bisa, konsep Belajar Merdeka dari Mas Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim, bisa menjadi ide yang baik, solusi bagi kita, makna belajar bisa dimana saja, kapan saja dan siapa aja. Ketika Pemerintah membuat kebijakan untuk social distancing jaga jarak, berimplikasi dengan banyak sekolah di tutup, proses belajar dilakukan secara online, bisa dengan konsep merdeka belajar, tetapi harus ada support System nya seperti orang tua harus memiliki kesadaran, Pemerintah memberikan bantuan, dengan tekhnis yang sederhana dan tepat sasaran._

Merdeka juga bisa dimaknai bebas dari belenggu Penjajahan secara fisik dan Batiniah, walaupun dalam realitas kita masih banyak di jajah dengan kondisi intrapersonal kita sendiri, yaitu tidak merdeka dalam me-manajemen waktu karena banyaknya tugas atau yang harus dilakukan, sehingga perlu adanya kebijakan yang proporsional, sehingga disebut profesional. Merdeka dari belenggu Penjajahan, itu harus, Indonesia merdeka sudah 75 Tahun, dengan visi Indonesia maju, tentu hal yang paling utama adalah merdeka se utuhnya._

Dikutip dari laman Republika Hakikat kemerdekaan yang sebenarnya bagi seorang hamba merupakan melepaskan diri dari penghambaan diri kepada makhluk. Hal tersebut disampaikan Ustadz alumni Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta, Raehanul Bahraen, dalam video singkat di akun Youtube miliknya, yaitu tidak menyembah dan tidak bergantung hati kepada makhluk seperti pohon keramat, benda kramat, jimat, jin dan sebagainya,” kata Ustadz yang juga Spesialis Patologi Klinik dari Univeristas Gajah Mada ini, Beliau mengungkapkan, hakikat kemerdekaan merupakan merdeka dari menjadi hamba, dan budak hawa nafsu ketamakan. Salah satunya yakni budak dunia, dan budak harta._

Setuju dengan pesan Beliau, bahwa Merdeka adalah kita bebas menjadi budak dari dunia, budak dari harta, tahta dan wanita, kita adalah hamba Allah Subhana wata’ala, Allah yang telah menciptakan kita, Allah yang memberikan kita kehidupan, kita adalah hamba Allah, sepantas dan seharusnya kita mengabdi kepada Allah dan memohon pertolongan kepadanya dalam Surat Al Fatihah sudah di jelaskan “Hanya kepada Mu kami menyembah dan memohon pertolongan”._

Dikutip dari laman Republika, tulisan Prof Didin Hafidhudin, menyebutkan tentang konsep pemikiran beliau tentang Merdeka, Para pendiri bangsa (founding fathers) ketika merancang per nyataan kemerdekaan di dalam naskah yang dikenal sebagai Piagam Jakarta 22 Juni 1945 lalu kemudian pada tanggal 18 Agustus 1945 dengan sedikit perubahan disahkan menjadi Pembukaan Undang- Undang Dasar 1945 menorehkan kata-kata Allah dalam alinea ketiga pembukaan UUD negara kita sebagai berikut: “Atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa dan dengan di dorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”_

Penyebutan rahmat Allah di dalam pembukaan konstitusi negara mengandung makna yang sangat dalam yaitu pengakuan bahwa tanpa rahmat dan pertolongan Allah SWT tidak mungkin bangsa Indonesia bisa merebut kemerdekaan dari kolonialisme dan imperialisme yang begitu kuat.Pengakuan tersebut haruslah ditindaklanjuti bahwa segala upaya dalam mengisi kemerdekaan tidak boleh menyimpang dari nilai-nilai ketuhanan di dalam agama._

Jelas bagi kita semua, bahwa bangsa kita Merdeka karena Rahmat dan Karunia dari Allah Subhana wata’ala, tidak ada Merdeka bila tidak se izin dari Allah Subhana wata’ala, syukur yang luar biasa, syukur yang harus kita maknai dengan nilai nilai Perjuangan dan Pengorbanan, bangsa yang besar adalah bangsa yang beragama, bangsa yang maju adalah bangsa yang menghormati para pahlawannya, menghormati pemimpin dan ulamanya._

Isu tentang G 30 September PKI yang marak beredar di media sosial dan masyarakat, melalui program ILC yang ditayangkan oleh TV One, kita banyak memperoleh informasi dari tokoh tokoh Pemerintah, tokoh tokoh Bangsa, kita harus banyak belajar dari sejarah, hingga sejarah itu memang benar, bukan tidak benar, sesuai dengan data fakta yang ada, generasi butuh sejarah yang benar, karena itu adalah kekuatan bangsa yang bisa mempersatukan bangsa. Tidak ada penghianatan, kita adalah saudara, kita memiliki visi bersama untuk Indonesia Maju dan Sejahtera._

Gambar; Ilustrasi tentang 2 orang pemuda yang merasa sudah merdeka, bebas melakukan apa saja, tidak memiliki nilai dan tidak taat norma, hal ini adalah makna merdeka yang salah, merdeka adalah Insan yang bernilai dan bernorma, Insan Moderat dan Cinta Tanah Air._sumarto.

Kampus Merdeka
Sumarto sumarto

Respond For " Merdeka, Menjadi Orang yang Bebas Tapi Memiliki Nilai, Taat Norma._ "