+62-852-27-281672
info@literasikitaindonesia.com

Pentingnya Sikap Empati Pemimpin Dalam Sistem Organisasi

Mempunyai rasa empati adalah keharusan seorang manusia karna disanalah terletak nilai kemanusiaan seseorang.[1] Melalui empati, individu akan mampu mengembangkan pemahaman yang mendalam mengenai suatu permasalahan. Memahami orang lain akan mendorong antar individu saling berbagi. Empati merupakan kunci pengembangan leadership dalam diri individu.

Kepemimpinan adalah faktor kunci dalam suksesnya suatu organisasi serta manajemen. Kepemimpinan adalah identitas yang mengarahkan kerja para anggota organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan yang baik diyakini mampu mengikat, mengharmonisasi, serta mendorong potensi sumber daya organisasi agar dapat bersaing secara baik.

Konsep kepemimpinan telah banyak ditawarkan para penulis di bidang organisasi dan manajemen. Kepemimpinan tentu saja mengkaitkan aspek individual seorang pemimpin dengan konteks situasi di mana pemimpin tersebut menerapkan kepemimpinan.  Kepemimpinan juga memiliki sifat kolektif dalam arti segala perilaku yang diterapkan seorang pimpinan akan memiliki dampak luas bukan bagi dirinya sendiri melainkan seluruh anggota organisasi.

Sebelum memasuki materi kepemimpinan, perlu terlebih dahulu dibedakan konsep pemimpin (leader) dengan kepemimpinan (leadership). Pemimpin adalah individu yang mampu mempengaruhi anggota kelompok atau organisasi guna mendorong kelompok atau organisasi tersebut mencapai tujuan-tujuannya. Pemimpin menunjuk pada personal atau individu spesifik atau kata benda. Sementara itu, kepemimpinan adalah sifat penerapan pengaruh oleh seorang anggota kelompok atau organisasi terhadap anggota lainnya guna mendorong kelompok atau organisasi mencapai tujuan-tujuannya. [2]

Kebiasaan buruk pemimpin yang tidak boleh ditolerir adalah sikap cuek pada keluh kesah bawahan, atau masa bodoh dan tidak mau mendengarkan persoalan para bawahan. Sikap cuek tidak hanya membuat bawahan kehilangan jalur komunikasi dengan atasan, tapi akan membuat hubungan kerja menjadi tidak harmonis dan cendrung pasif.

Menurut kaidah, para pemimpin atau manajer adalah manusia-manusia super lebih daripada yang lain, kuat, gigih, dan tahu segala sesuatu. Para pemimpin juga merupakan manusia-manusia yang jumlahnya sedikit, namun perannya dalam organisasi merupakan penentu keberhasilan dan suksesnya tujuan yang hendak dicapai. Berangkat dari ide-ide pemikiran, visi para pemimpin ditentukan arah perjalanan suatu organisasi. Walaupun bukan satu-satunya ukuran keberhasilan dari tingkat kinerja organisasi, akan tetapi kenyataan membuktikan tanpa kehadiran pemimpin, suatu organisasi akan bersifat statis dan cenderung berjalan tanpa arah. Menurut Djajendra  “Setiap sikap baik, setiap ucapan baik, setiap pikiran baik, setiap senyum tulus, akan mengantar anda untuk menjadi pribadi yang dihormati dan disenangi oleh orang lain.”[3]

Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Kepemimpinan mempunyai kaitan yang erat dengan motivasi. Hal tersebut dapat dilihat dari keberhasilan seorang pemimpin dalam menggerakkan orang lain dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sangat tergantung kepada kewibawaan, dan juga pimpinan itu dalam menciptakan motivasi dalam diri setiap orang bawahan, kolega, maupun atasan pimpinan itu sendiri.

Kemudian apa yang dimaksud dengan empati? empati dan simpati memiliki kata yang hampir sama tapi berbeda makna dan tindakan. Berikut defenisi empati : Empati berasal dari bahasa Yunani yang berarti “ketertarikan fisik”. Sehingga dapat didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengenali, mempersepsi, dan merasakan perasaan orang lain.[1] Menurut KBBI, empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang mengidentifikasi atau merasa dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain.

Sedangkan Eileen R. dan Sylvina S menjelaskan bahwa empati adalah kegiatan berpikir individu mengenai “rasa” yang dia hasilkan ketika berhubungan dengan orang lain.[2] Empati mirip perasaan simpati, akan tetapi tidak semata-mata perasaan kejiwaan saja, melainkan diikuti perasaan organisme tubuh yang sangat dalam. Contoh bila sahabat kita orang tuanya meninggal, kita sama-sama merasakan kehilangan. Empati adalah melakukan sesuatu kepada orang lain dengan menggunakan cara berfikir dari orang lain tersebut, yang menurut orang lain itu menyenangkan, yang menurut orang lain itu benar. Jadi, apa yang menurut anda suatu kebaikan, bisa saja sebenarnya malah mengganggu orang lain.

Kebiasaan buruk pemimpin yang tidak boleh ditolerir adalah sikap cuek pada keluh kesah bawahan, atau masa bodoh dan tidak mau mendengarkan persoalan para bawahan. Sikap cuek tidak hanya membuat bawahan kehilangan jalur komunikasi dengan atasan, tapi akan membuat hubungan kerja menjadi tidak harmonis dan cendrung pasif. Pemimpin yang cerdik pasti tahu bahwa membiarkan keluh kesah para bawahan sama seperti membenamkan potensi organisasi ke dalam masalah. Jika pemimpin bersikap cuek dan malas mendengarkan para bawahan, lantas bagaimana mungkin pemimpin bisa memahami semua kebutuhan organisasi dan kebutuhan para bawahan.

Oleh karena itu, pemimpin wajib menjadi penasihat atau konselor, yang memberikan perhatian dan kepedulian kepada semua kolega dan bawahan, yang memerlukan perhatian dan bimbingan dari pemimpin. Pemimpin juga harus secara proaktif meluruskan semua masalah keluh kesah para bawahan ke jalur yang positif dan kreatif. Pemimpin wajib memiliki kepedulian, perhatian, komitmen, empati, intuisi, dan menghormati semua keadaan para bawahan, agar bisa berkomunikasi secara bijak melalui proses mendengar dan proses memberi jawaban. Oleh karena itu, pemimpin wajib mendengarkan setiap bawahannya, agar dapat membantu para bawahan untuk mencapai sasaran kerja secara maksimal.

Pemimpin harus belajar menggunakan intuisi, perasaan, nilai-nilai kebaikan, empati, simpati, dan kebenaran,  untuk membuat keputusan – keputusan yang tepat sasaran buat kehidupan orang banyak. Pemimpin harus belajar untuk melibatkan orang – orang lain secara adil dan terbuka, pemimpin harus belajar tidak hanya pintar bicara, tapi juga pintar mendengarkan dan pintar memahami informasi yang realistis.

Pemimpin harus belajar mendengar dan melihat kebenaran, dan tidak membawa nasib orang lain ke dalam kesulitan hidup. Tetapi, mampu menciptakan peluang sukses buat kehidupan setiap orang. Pemimpin harus belajar membuat keputusan berdasarkan logika yang cerdas, emosi yang cerdas, dan pikiran yang rasional, untuk menciptakan kemudahan dan kebaikan buat semua orang. Pemimpin harus belajar menjadi mentor yang bijak buat orang-orang disekitarnya, serta menjadi inspirator yang mampu menyebarkan gairah hidup dan motivasi, untuk memberikan nilai-nilai kemenangan hidup ke dalam hati setiap orang.

Berempati tidak melenyapkan kedirian kita. Perasaan kita sendiri takkan hilang ketika kita mengembangkan kemampuan untuk menerima pula perasaan orang lain yang juga tetap menjadi milik orang itu. Menerima diri orang lain pun tidak identik dengan menyetujui perilakunya. Meskipun demikian, empati menghindarkan tekanan, pengadilan, pemberian nasihat apalagi keputusan. Dalam berempati, kita berusaha mengerti bagaimana orang lain merasakan perasaan tertentu dan mendengarkan bukan sekadar perkataannya melainkan tentang hidup pribadinya: siapa dia dan bagaimana dia merasakan dirinya dan dunianya. Apabila seorang pemimpin merasakan bahwa mengembangkan potensi orang lain merupakan tanggung jawab, maka dirinya akan merasa bangga dan bahagia melihat orang lain berhasil. Inilah salah satu kelebihan pemimpin yang memiliki sifat empati yaitu dirinya bahagia melihat keberhasilan orang lain.

Kesimpulanya seorang pemimpin yang baik adalah manajer yang mampu untuk berkomunikasi dan memotivasi bawahan atau karyawanya dengan baik serta mau dan mampu untuk mendegarkan apresiasi, keluhan dan saran dari bawahan, semua hal itu harus dilakukkan demi tercapainya tujuan dari perusahaan atau organisasi yang sedang dia naungi.

Referensi

[1]Rahmat, Jalalludin, Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosda Karya. 2001. Hal. 12

[2] Ibid, Hal 14

[3] Sthepen P. Robins. Teori Organisasi Struktur, Desain, dan Aplikasi. Jakarta: Arcan. 1994. Hal 4

[4] Uchjana, Onong.  Hubungan Insani.Jakarta:Rineka Cipta. 1998. Hal 39

Http://Djajendra-Motivator.com/?p=601 [



Opi Teci Darisma

Lecturer on Education Management at College
Menulis adalah tentang berfikir, menuangkan pengetahuan, perasaan,ide
serta konsep yang disampaikan melalui tulisan dalam bingkai bacaan.
Opi Teci Darisma

Respond For " Pentingnya Sikap Empati Pemimpin Dalam Sistem Organisasi "