Site icon Literasi Kita Indonesia

Rektor Universitas Prof. Dr. Hazairin, SH UNIHAZ “Pentingnya Literasi Sejak Dini” SPS, RA dan SD Literasi Qur’ani

Rektor UNIHAZ Bengkulu bersama Peserta Didik SD Literasi Qur’ani

REJANG LEBONG, BENGKULU – Membangun generasi unggul Indonesia tidak cukup dimulai ketika anak memasuki bangku sekolah dasar atau perguruan tinggi. Fondasi pendidikan justru harus ditanamkan sejak usia dini, ketika anak mulai mengenal bahasa, membaca, mengenali lingkungan, membangun karakter, dan mengembangkan rasa ingin tahu. Dari ruang-ruang belajar pendidikan anak usia dini inilah budaya literasi dapat tumbuh dan menjadi bekal penting bagi masa depan bangsa.

Semangat tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam kunjungan Rektor Universitas Prof. Dr. Hazairin, SH (UNIHAZ) Bengkulu, Dr. Arifah Hidayati, MM, bersama dosen UNIHAZ, Melati, M.TPd., M.Pd., ke lingkungan pendidikan Yayasan Literasi Kita Indonesia, Kabupaten Rejang Lebong, yang menaungi SPS Literasi Qur’ani, RA Tunas Literasi Qur’ani, dan SD Literasi Qur’ani.

Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi kelembagaan, melainkan menjadi ruang pertemuan gagasan antara dunia akademik dan praktik pendidikan yang tumbuh di tengah masyarakat. Diskusi mengenai pentingnya literasi sejak dini, penguatan mutu pendidikan, keterjangkauan biaya, serta peran perguruan tinggi dalam pengabdian kepada masyarakat menjadi perhatian utama.

Di tengah tantangan pendidikan yang semakin kompleks, kolaborasi antara perguruan tinggi, yayasan pendidikan, pendidik, orang tua, dan masyarakat menjadi kebutuhan strategis. Pendidikan tidak boleh hanya menjadi urusan lembaga formal, tetapi harus hadir sebagai gerakan bersama untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas.

Rektor UNIHAZ: Literasi Harus Dibangun Sejak Dini melalui Pendidikan Anak Usia Dini

Rektor UNIHAZ Bengkulu, Dr. Arifah Hidayati, MM, menegaskan bahwa literasi sejak dini merupakan fondasi penting dalam membangun kemampuan dan karakter anak. Pendidikan anak usia dini memiliki posisi strategis karena menjadi tahap awal pembentukan kebiasaan belajar, kemampuan berkomunikasi, perkembangan kognitif, serta pengenalan nilai-nilai kehidupan.

“Pentingnya literasi sejak dini melalui PAUD harus menjadi perhatian bersama. Anak-anak perlu diperkenalkan dengan budaya literasi sejak awal melalui lingkungan pendidikan yang mendukung perkembangan mereka. Perguruan tinggi juga memiliki peran dalam pengabdian kepada masyarakat melalui kolaborasi dengan lembaga pendidikan PAUD, TK, dan SD,” ungkap Dr. Arifah Hidayati.

Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan pendidikan dan penelitian, tetapi juga harus hadir memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Pengabdian kepada masyarakat dapat dilakukan melalui pendampingan, penguatan kapasitas pendidik, berbagi pengetahuan, pengembangan metode pembelajaran, dan kolaborasi kelembagaan.

Kehadiran perguruan tinggi di tengah masyarakat diharapkan mampu menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata lembaga pendidikan. Dengan demikian, hasil pemikiran dan keilmuan akademisi tidak berhenti di ruang perkuliahan, tetapi dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak.

Literasi sejak dini juga tidak boleh dimaknai sebatas kemampuan membaca dan menulis. Literasi mencakup kemampuan menyimak, berbicara, memahami informasi, berpikir kritis, berkomunikasi, serta membangun kreativitas. Pada pendidikan anak usia dini, semua kemampuan tersebut perlu dikembangkan melalui aktivitas yang menyenangkan, sesuai dengan tahapan perkembangan anak.

Akademisi dan Masyarakat Membangun Pendidikan Berkualitas

Perspektif kolaborasi akademisi dan masyarakat juga disampaikan oleh dosen UNIHAZ Bengkulu, Melati, M.TPd., M.Pd. Ia melihat bahwa kehadiran akademisi di tengah masyarakat memiliki peran strategis dalam membangun lembaga pendidikan yang berkualitas, berkelanjutan, dan dapat diakses oleh berbagai lapisan masyarakat.

“Peran akademisi di masyarakat adalah berkolaborasi dalam mendirikan dan mengembangkan lembaga pendidikan dengan mutu yang baik, biaya terjangkau, dan akses yang dekat dengan masyarakat,” jelas Melati.

Menurutnya, pendidikan berkualitas harus dibangun dengan memperhatikan tiga aspek penting, yaitu mutu layanan pendidikan, keterjangkauan pembiayaan, dan kemudahan akses. Ketiganya merupakan unsur yang saling berkaitan dalam mewujudkan pemerataan kesempatan pendidikan.

Lembaga pendidikan yang berkualitas tidak harus selalu identik dengan biaya mahal. Dengan manajemen yang baik, pendidik profesional, program pembelajaran terencana, serta dukungan masyarakat, lembaga pendidikan dapat menghadirkan layanan bermutu dengan pembiayaan yang terjangkau.

Kolaborasi akademisi dan masyarakat juga membuka peluang pengembangan inovasi pembelajaran. Perguruan tinggi dapat memberikan kontribusi melalui keahlian dosen, pengalaman penelitian, pendampingan manajemen, pengembangan kurikulum, serta peningkatan kompetensi pendidik.

Dengan demikian, lembaga pendidikan masyarakat tidak hanya menjadi tempat anak-anak memperoleh layanan pendidikan, tetapi juga menjadi pusat pemberdayaan dan pengembangan kualitas sumber daya manusia.

Yayasan Literasi Kita Indonesia: Pengabdian Kepada Masyarakat

Pembina Unit Pendidikan Yayasan Literasi Kita Indonesia Kabupaten Rejang Lebong, Dr. Emmi Kholilah Harahap, M.Pd.I., menjelaskan bahwa pendirian lembaga pendidikan di bawah naungan yayasan merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran SPS Literasi Qur’ani, RA Tunas Literasi Qur’ani, dan SD Literasi Qur’ani dilandasi keinginan untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak mendapatkan pendidikan yang berkualitas, terjangkau, dan dekat dengan lingkungan tempat tinggal mereka.

“Kita mendirikan lembaga pendidikan dengan tujuan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Adanya SPS Literasi Qur’ani dengan Sekolah Kelompok Bermain atau Kober gratis bagi masyarakat, RA Tunas Literasi Qur’ani dengan biaya terjangkau, mutu terbaik, pendidik yang profesional, serta metode pembelajaran berbasis Literasi Qur’ani. Kemudian SD Literasi Qur’ani dengan tujuan mewujudkan anak-anak kita yang mencintai dan mengamalkan Al-Qur’an,” ungkap Dr. Emmi.

Ia menjelaskan bahwa setiap unit pendidikan memiliki karakteristik dan sasaran layanan masing-masing, tetapi berada dalam satu visi besar, yaitu membangun generasi yang memiliki kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, berkarakter Islami, dan menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan.

SPS Literasi Qur’ani hadir memberikan layanan pendidikan anak usia dini melalui kelompok bermain, termasuk program gratis bagi masyarakat. RA Tunas Literasi Qur’ani berkomitmen menghadirkan pendidikan yang berkualitas dengan biaya terjangkau, didukung pendidik profesional dan pembelajaran yang mengembangkan berbagai potensi anak.

Sementara itu, SD Literasi Qur’ani menjadi kelanjutan dari ikhtiar pendidikan tersebut dengan memperkuat kemampuan akademik, karakter, budaya literasi, pembiasaan ibadah, serta kecintaan dan pengamalan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Konsep Literasi Qur’ani dikembangkan dengan mengintegrasikan budaya membaca, menulis, menyimak, berbicara, berpikir, dan belajar dengan nilai-nilai Al-Qur’an. Anak tidak hanya diarahkan untuk mengenal huruf dan bacaan, tetapi juga dibimbing untuk memahami nilai kebaikan, membangun akhlak, menghargai sesama, serta mengembangkan potensi dirinya.

Bagi Dr. Emmi, pendidikan merupakan investasi jangka panjang. Oleh karena itu, pengelolaan lembaga pendidikan harus dilaksanakan secara profesional, dengan tetap menjunjung tinggi semangat pengabdian dan keberpihakan kepada masyarakat.

Yayasan Literasi Kita Indonesia: Kolaborasi untuk Generasi Indonesia Emas

Ketua Yayasan Literasi Kita Indonesia Kabupaten Rejang Lebong, Dr. Sumarto, M.Pd., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Rektor UNIHAZ Bengkulu, Dr. Arifah Hidayati, MM, beserta dosen UNIHAZ, Melati, M.TPd., M.Pd., atas kunjungan dan diskusi mengenai penguatan literasi serta pengembangan pendidikan di lingkungan yayasan.

“Terima kasih kepada Rektor Universitas Prof. Dr. Hazairin, SH UNIHAZ, Dr. Arifah Hidayati, MM, atas kunjungannya dan berdiskusi tentang peran akademisi dalam menggiatkan literasi, berkolaborasi dengan masyarakat untuk kemajuan pendidikan. Melalui lembaga pendidikan, kita wujudkan generasi Indonesia Emas,” ungkap Dr. Sumarto.

Ia menegaskan bahwa Yayasan Literasi Kita Indonesia berkomitmen menjadikan pendidikan dan literasi sebagai gerakan pemberdayaan masyarakat. Lembaga pendidikan tidak hanya berorientasi pada proses pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya budaya membaca, kreativitas, karakter, spiritualitas, dan kepedulian sosial.

Menurutnya, sinergi dengan perguruan tinggi merupakan peluang besar untuk meningkatkan mutu kelembagaan. Dunia akademik memiliki kekuatan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, dan inovasi, sementara lembaga pendidikan masyarakat memiliki pengalaman langsung dalam memahami kebutuhan peserta didik, pendidik, dan lingkungan sosial.

Keduanya dapat saling melengkapi melalui program pengabdian kepada masyarakat, pendampingan pendidikan, peningkatan kompetensi guru, pengembangan literasi, penelitian kolaboratif, hingga inovasi pembelajaran berbasis kebutuhan masyarakat.

Dr. Sumarto juga berharap kunjungan dan diskusi tersebut menjadi awal penguatan hubungan kelembagaan antara UNIHAZ Bengkulu dan Yayasan Literasi Kita Indonesia, sehingga berbagai potensi kerja sama dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Dari Rejang Lebong untuk Pendidikan Indonesia

Kunjungan Rektor UNIHAZ Bengkulu ke lingkungan SPS Literasi Qur’ani, RA Tunas Literasi Qur’ani, dan SD Literasi Qur’ani memberikan pesan penting bahwa gerakan literasi harus dimulai dari lingkungan terdekat anak. Keluarga, sekolah, masyarakat, dan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab bersama dalam membangun ekosistem pendidikan yang mendukung tumbuh kembang generasi masa depan.

Di Desa Tasik Malaya, Kecamatan Curup Utara, Kabupaten Rejang Lebong, semangat membangun pendidikan tersebut diwujudkan melalui lembaga-lembaga pendidikan yang berupaya menghadirkan layanan berkualitas, biaya terjangkau, dan pembelajaran berbasis Literasi Qur’ani. Lebih jauh, kunjungan ini memperlihatkan bahwa perguruan tinggi dapat menjadi mitra strategis lembaga pendidikan masyarakat. Akademisi tidak hanya hadir sebagai pengamat, tetapi juga dapat menjadi penggerak perubahan melalui gagasan, keilmuan, pendampingan, dan pengabdian nyata.

Literasi sejak dini bukan sekadar program pendidikan, melainkan investasi peradaban. Dari anak-anak yang tumbuh dengan budaya membaca, kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, karakter yang baik, dan nilai-nilai Al-Qur’an, diharapkan lahir generasi yang mampu menghadapi tantangan zaman sekaligus memberikan kontribusi bagi bangsa. Dari Desa Tasik Malaya, Rejang Lebong, semangat literasi terus bergerak. Perguruan tinggi berkolaborasi dengan masyarakat, lembaga pendidikan menjadi pusat pengabdian, dan literasi sejak dini menjadi fondasi untuk mewujudkan Generasi Indonesia Emas. (Sum)

Dokumetasi :

Pembina Unit Pendidikan Yayasan Berdiskusi Bersama Rektor UNIHAZ Bengkulu
Pembina Unit Pendidikan Yayasan dan Rektor UNIHAZ Bengkulu Berkunjung ke Perpustakaan SD Literasi Qur’ani dan TBM Tasik Malaya
Pentingnya Literasi Sejak Dini “SPS Literasi Qur’ani”
Peran Akademisi dalam PKM

Exit mobile version