+62-852-27-281672
info@literasikitaindonesia.com

Sahabat BS ku bagai keluarga

Tia – Komunitas Ma’arif – Literasi Kita Indonesia

Ini cerita antara aku dan sahabatku, kami lebih sering menyebut kita itu keluarga sih. Sebenarnya BS (sebutan kami berenam) gak tau terbentuk dari kapan yang jelas kita dipertemukan dikampus karena Sebuah Organisasi. 2 laki-laki dari kiri mereka semester 8 dan kami ber empat masih semester 6 sekarang.  Beda 2 semester alias setahun masuk kuliahnya. Kenapa bilang kayak keluarga? karena tempat berbagi cerita, suka duka ya sama BS, sampai si ARI (tim cowok) pada punya pacar BTT (tim cewek) dicemburuin sama mereka, ada juga salah satu dari mantan mereka jadiin kami tempat curhatnya juga.

Suatu waktu ketika aku masih semester 3, kami membuat sebuah seminar yang dipanitiai oleh kami berenam, sebenarnya panitia ada tujuh teman kami juga. Disinilah awal aku mengenal semangat dan tekad untuk memberanikan diri, untuk berdiri didepan dan memegang mic. Kala itu aku menjadi MC,  dua hari sebelum acara salah satu dari kami alias yang ngurus sie acara bertanya padaku ”siap gak jadi mc”  kujawab “siap”, beliau berkata lagi “coba tes Assalamu alaikum”. karena aku malu yah kujawab ngeles ” percaya gak sama aku” dengan muka ragu dan terlihat pasrah beliau menjawab “percaya”. Ya udah kalau percaya gak usah dites”. karena acara sendiri jadi apapun hasilnya gak ada yang ditakuti, hanya malu aja dikit karena belum pernah dan cuma bermodalkan nekat saat ada kesempatan terlebih lagi acara sendiri.

Sejak kegiatan itu, kami jadi sering berdikusi, ngumpul dan merencanakan hal-hal kedepan, saling merayakan ulang tahun, ulang tahun yang pertama si B, bulan puasa kala itu lagi bukber dan dibuat nangis sama kami, yang kedua Ultah si T(yg udah nikah diatas keliatan la ya dari dandanannya) saat lagi rapat mau buat kegiatan kami buat nangis juga pastinya, waktu itu kami pura-pura berantem satu sama lain, ultah yang ketiga aku dan si R karena bulannya sama jadi dibarengi dengan mereka.

Ultah ini adalah momen yang udah tahu kalau mau dikasih kue, udah tahu ada rencana mau nangis-nangisan, dan saat bersamaku tanpa si R berencana ngerjain si R dan begitu pun sebaliknya dan aku pun dengan si R udh sekongkol mw ngerjain balik, saling mengetahui deh pada intinya. Momen ini semua perasaan kita tercurahkan semua menangis kecuali si R mungkin beliau punya pawang anti nangis. Ultah keempat si A waktu itu kami sengaja telat ngerayain selama 20 hari, beliau ngmbek kerjaannya marah melulu, soalnya kami gak ada yang ingat alias pura pura lupa dan menyengaja gak ngucapin, dan saat itu tiba, kami ikat kasih tepung sama siram air, jangan lapor polisi ya, ikatnya gak kencang kok, dan beliaunya juga pasrah aja waktu itu saat diikat, ngomong-ngomong kesalnya beliau suka hilang kalau udah ngeliat wajah kami ntah kenapa aku pun gak tahu, ultah yang terakhir, kenapa bilang terkakhir karena kami berencana menjadikan momen perayaan ultah keliling ditiadakan cukup do’a aja bila memang tiba waktunya yang terakhir ini biasa aja gak ada momen-momen ngerjain lagi cuma ngasih kue dan ucapan.

Karena ARI dan B semua adalah seorang ketua yang menjabat dalam organisasi, dan T pernah jadi ketua panitia, aku yang bukan apa-apa ditantangin salah satu dari mereka untuk jadi ketua dalam suatu kegiatan, karena mereka posisi ketua dalam organisasi jadi sangat mudah juga bila mau jadi ketua, hingga akhirnya ada suatu kegiatan se provinsi kala itu, dan aku pun menjadi ketua panitia. Setelah menjadi ketua yang ternyata gak semudah yang kubayangkan, aku BT semenjak acara ini, udah mulai turun semangatnya dalam suatu kegiatan. Dan sempat memutuskan ini adalah acara terakhir. Rasa kepercayaan diriku pun mulai hilang. Meski beberapa kegiatan berikutnya masih sering terlibat kenyataannya, karena memang kami sebelumnya sangat aktif bila ada kegiatan orang-orang menyebutnya aktifis, bahkan dikira anak sore yang kenyataanya kuliah pagi karena muncul terus dikampus.

Seperti yang aku bilang tadi semangatku mulai turun rasa kepercayaan diri mulai hilang,pada suatu waktu ada sebuah kegiatan menulis, yang aku tahu aku gak ada bakat disitu, liat aja dari tulisan ini gak ada bakat-bakatnya sama sekali, tidak tersusun rapi, tapi gak tahu kenapa disaat hari terakhir ngumpul karena diminta sebagai perwakilan dari jurusan yang duduki juga, H-0 pengumpulan aku mencoba menulis dan mengambil beberapa jurnal di internet kalau gak salah waktu itu ada dua referensi buku,8 nya jurnal, jurnal yang kuambil sudah kuprint sebagai buktinya nanti saat persentasi bila seandainya lolos, The power off kepepet kalau kata anak jaman now. Sebenarnya gak ada yakin sama sekali bakal terpilih, dan waktu itu juga terlibat dalam kepanitiaan dan jadi mc.

Namun ternyata lolos. Disaat lolos aku mulai menyesal kenapa menulis, karena merasa tertantang lagi ,oh aku yang melakukan tanpa berfikir dulu. Sebenarnya mulai mempelajari sih apa yang kutulis hingga sampai di satu hari sebelum waktunya persentasi aku teringat bahwa aku diamanahkan jadi mc otomatis aku gak akan bisa untuk tampil, aku pun minta pendapat sama BS bagaimana ikut lombanya atau jadi mc, semuanya juga lebih mendukung jadi mc, kepercayaan diriku untuk lomba bukan berkurang lagi tapi benar benar sudah zonk alias gak ada. Aku pun menghubungi ketua pantia untuk mengundurkan diri dalam lomba, tapi apa ditolak mentah-mentah esoknya saat hari itu tiba aku diminta siap tampil dan soal mc banyak yang bisa menggantikan kata beliau.

Tanpa persiapan apapun aku disuruh tampil, ya ampun aku habis mimpi apa semalam, sebenarnya aku bawa sih satu makalah dan refensinya tetapi syaratnya kala itu harus ada tiga makalah , aku semakin bingung harus bagaimana, kesiapan sudah gak ada kantong menipis gak cukup mau ngeprint waktu itu cuma berdua sama si B, yang lain pada lagi sibuk gak bisa dimintai bantuan. Kebetulan aku juga seorang guru, hari itu tepat waktunya aku mengajar juga. Karena gak tahu lagi harus bagaimana aku memilih untuk mengajar dan meninggalkan acara.

Hingga kini, rasa semangat, kepercayaan diri, tantangan gak lagi menarik. Sebenarnya banyak cerita yang gak diceritakan juga,  cuma dititik awal semangat dalam suatu hal hingga sudah mencapai titik akhirnya kembali ketitik ingin berada dizona nyaman. Tanpa diketahui siapa, diperdulikan siapa dan harus sebagai apa. Kami pun sudah jarang ngumpul, jarang berdiskusi ntah kenapa setelah aku jadi ketua panitia dalam suatu kegiatan semua mulai sibuk. Hingga salah satu dari kami yaitu si T memberi undangan pernikahannya, yah foto diatas, suaminya kami suru menyingkir dulu hehe. Bagaimana persahabatan kami selanjutnya, aku pun gak tahu. Oh iya dulu kami berenam sempat hompipa untuk mengetahui siapa yang menikah duluan, dan waktu itu si T dan benar benar jadi nyata si T duluan yang nikah, hompipa berikutnya si R apakah jadi nyata atau tidak

Ketika semua ada cerita…punya makna..yang bisa menjadi bagian kita nanti di masa masa yang akan datang…tidak bisa di lupa…menjadi rasa yang penuh suka dan duka…untuk semua tentang kita…menjadi indah pada waktunya juga…

Sumarto sumarto

Menulis tidak hanya menulis, tetapi menulis harus dengan pengetahuan, karena tulisan butuh pengakuan yaitu keilmuan menulis tentang apa yang ingin di tulis
Sumarto sumarto

Respond For " Sahabat BS ku bagai keluarga "