Site icon Literasi Kita Indonesia

SD LITERASI QUR’ANI PILIHAN KITA, BERSAMA GOL A GONG DUTA BACA INDONESIA GERAKAN LITERASI SEKOLAH DI KABUPATEN REJANG LEBONG

Penampilan Seni dan Budaya SD Literasi Qur’ani

Tasik Malaya, Curup Utara, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu — Dari sebuah desa di Curup Utara, semangat membangun generasi gemar membaca, mencintai ilmu pengetahuan, dan berakhlak mulia terus ditumbuhkan. SD Literasi Qur’ani, yang berdiri sejak tahun 2021 di bawah naungan Yayasan Literasi Kita Indonesia, menjadi bagian dari ikhtiar membangun pendidikan yang memadukan literasi, nilai-nilai keislaman, pengembangan bakat, dan pembentukan karakter peserta didik.

Kehadiran Gol A Gong, Duta Baca Indonesia, dalam kegiatan literasi bersama SD Literasi Qur’ani menjadi momentum untuk memperkuat gerakan literasi sekolah di Kabupaten Rejang Lebong. Pertemuan antara pegiat literasi nasional, pengelola yayasan, kepala sekolah, pendidik, dan peserta didik menghadirkan pesan penting bahwa membangun budaya membaca tidak cukup hanya dengan menyediakan buku. Literasi harus dihidupkan melalui keteladanan, kegiatan kreatif, pengalaman belajar, dan keterlibatan seluruh warga sekolah.

Bagi SD Literasi Qur’ani, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi merupakan jalan untuk memperluas wawasan, melatih daya pikir kritis, mengembangkan kreativitas, membangun kepercayaan diri, dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Melalui pendidikan yang terintegrasi dengan nilai-nilai Al-Qur’an, sekolah berupaya menghadirkan proses pembelajaran yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk karakter dan akhlak peserta didik.

Gol A Gong dan Semangat Menggerakkan Literasi Sekolah

Kehadiran Gol A Gong sebagai Duta Baca Indonesia memberikan inspirasi bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi pembaca, penulis, dan pencipta karya. Buku dapat menjadi jendela untuk mengenal dunia, sedangkan kegiatan menulis menjadi ruang bagi anak untuk menyampaikan gagasan, pengalaman, imajinasi, dan harapan.

Gerakan literasi sekolah perlu dibangun melalui pengalaman yang menyenangkan. Anak-anak tidak cukup hanya diminta membaca, tetapi juga perlu diberi kesempatan untuk menceritakan kembali isi bacaan, menulis pengalaman, membuat puisi, bertutur, berdiskusi, serta menampilkan karya di hadapan teman-temannya.

Semangat tersebut sejalan dengan upaya SD Literasi Qur’ani dalam menciptakan lingkungan belajar yang memberi ruang bagi peserta didik untuk berkembang sesuai dengan potensi masing-masing. Literasi dapat hadir melalui buku cerita, kisah Nabi dan Rasul, kegiatan bertutur, pembelajaran di perpustakaan, hingga pengembangan keterampilan menggunakan teknologi.

Kunjungan dan kegiatan bersama Duta Baca Indonesia juga menjadi pengingat bahwa gerakan literasi tidak dapat berjalan sendiri. Sekolah membutuhkan dukungan orang tua, masyarakat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, komunitas, dan berbagai mitra yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan.

Dari Kabupaten Rejang Lebong, gerakan literasi sekolah diharapkan tumbuh sebagai gerakan bersama yang menjangkau lebih banyak anak, keluarga, dan satuan pendidikan.

Pendidikan Qur’ani sebagai Fondasi Karakter

Di bawah naungan Yayasan Literasi Kita Indonesia, SD Literasi Qur’ani mengembangkan pendidikan yang mengintegrasikan pengetahuan umum, literasi, dan pembiasaan nilai-nilai keislaman. Program keagamaan menjadi salah satu keunggulan yang mewarnai kegiatan pembelajaran dan kehidupan sekolah.

Pembiasaan salat duha menjadi bagian dari pendidikan spiritual peserta didik. Melalui kegiatan tersebut, anak-anak dibimbing untuk mengenal ibadah, membangun kedisiplinan, dan menumbuhkan kecintaan kepada Allah Swt. Program tahsin dan tahfiz juga menjadi bagian penting dalam penguatan pendidikan Al-Qur’an. Tahsin membantu peserta didik memperbaiki bacaan Al-Qur’an, sedangkan tahfiz memberikan ruang bagi anak untuk menghafal ayat-ayat suci secara bertahap sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Selain itu, program literasi Nabi dan Rasul memperkenalkan perjalanan hidup para nabi dan rasul sebagai sumber pembelajaran moral. Kisah-kisah tersebut dapat menjadi sarana untuk menanamkan nilai kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, keberanian, kasih sayang, dan keteguhan dalam menghadapi tantangan.

Pendidikan keagamaan yang disertai pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari diharapkan membantu anak memahami bahwa ilmu pengetahuan dan akhlak merupakan dua unsur yang saling melengkapi. Anak didorong untuk menjadi pribadi yang berpengetahuan, mencintai Al-Qur’an, menghormati guru dan orang tua, serta mampu hidup berdampingan dengan orang lain secara baik.

Perpustakaan Sekolah, Ruang Tumbuhnya Mimpi Anak

Salah satu unsur pendukung gerakan literasi di SD Literasi Qur’ani adalah keberadaan perpustakaan sekolah. Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan dan meminjam buku, tetapi juga ruang belajar untuk membangun kebiasaan membaca dan memperluas pengalaman peserta didik.

Di perpustakaan, anak dapat mengenal berbagai cerita, pengetahuan, budaya, dan pengalaman manusia. Buku-buku yang dibaca dapat menjadi bahan untuk berdiskusi, membuat ringkasan, menyampaikan pendapat, menulis cerita, atau menghasilkan karya sederhana. Budaya literasi akan semakin kuat apabila membaca menjadi bagian dari keseharian sekolah. Guru dapat menjadi teladan dengan membaca bersama peserta didik, mengajak anak berbagi cerita, dan memberikan apresiasi terhadap karya yang mereka hasilkan.

Semangat literasi juga dapat dihubungkan dengan pendidikan Qur’ani. Anak-anak dapat membaca kisah Nabi dan Rasul, mengenal tokoh-tokoh inspiratif, serta belajar menuliskan kembali pesan moral yang mereka pahami. Dengan demikian, perpustakaan menjadi ruang perjumpaan antara pengetahuan, imajinasi, nilai agama, dan pembentukan karakter.

Literasi yang tumbuh sejak sekolah dasar diharapkan menjadi bekal penting bagi anak untuk melanjutkan pendidikan, menghadapi perubahan zaman, dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.

Dari Komputer Dasar hingga Drum Band: Mengembangkan Potensi Peserta Didik

Pendidikan yang bermakna tidak hanya memberikan pengetahuan akademik, tetapi juga membuka kesempatan bagi peserta didik untuk mengenali dan mengembangkan bakatnya. SD Literasi Qur’ani menghadirkan beragam program pendukung yang memberikan pengalaman belajar di luar kegiatan pembelajaran inti.

Program komputer dasar menjadi bagian dari pengenalan teknologi. Melalui pendampingan yang sesuai dengan usia, peserta didik dapat mulai mengenal perangkat komputer, keterampilan digital dasar, dan pemanfaatan teknologi untuk mendukung proses belajar. Kegiatan Pramuka memberikan pengalaman tentang kedisiplinan, kemandirian, kerja sama, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap lingkungan. Sementara itu, drum band menjadi ruang untuk melatih konsentrasi, koordinasi, kekompakan, serta keberanian tampil di hadapan orang lain.

Di bidang olahraga, silat dan futsal memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan keterampilan gerak, sportivitas, semangat berlatih, dan kerja sama tim. Kegiatan bertutur juga membuka ruang bagi peserta didik untuk menyampaikan cerita, melatih kemampuan berbicara, dan membangun rasa percaya diri.

Adapun marawis menjadi salah satu sarana pengembangan seni yang bernuansa Islami. Melalui kegiatan seni, peserta didik dapat belajar menghargai budaya, bekerja sama, dan mengekspresikan kreativitas secara positif. Ragam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa literasi dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk. Anak belajar membaca dan memahami informasi, tetapi juga belajar mengomunikasikan gagasan, memecahkan masalah, berkolaborasi, dan menghasilkan karya.

Setiap anak memiliki keunikan. Karena itu, ruang pengembangan bakat menjadi bagian penting dalam membangun sekolah yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan potensi terbaiknya.

Sekolah Nyaman di Pedesaan, Pendidikan Berkualitas bagi Masyarakat

Berlokasi di Desa Tasik Malaya, Kecamatan Curup Utara, SD Literasi Qur’ani tumbuh dalam lingkungan pedesaan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kabupaten Rejang Lebong. Suasana lingkungan yang nyaman dapat menjadi modal untuk menghadirkan pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.

Lingkungan desa menyimpan banyak sumber pembelajaran. Kehidupan sosial masyarakat, tradisi lokal, alam sekitar, dan budaya dapat dimanfaatkan untuk memperkaya kegiatan literasi. Anak-anak dapat belajar mengamati lingkungan, menuliskan pengalaman, mengenal kearifan lokal, serta mengembangkan rasa cinta terhadap daerahnya.

Sejak berdiri pada tahun 2021, SD Literasi Qur’ani hadir sebagai bagian dari upaya memperluas kesempatan pendidikan yang mengintegrasikan pembentukan karakter, program keagamaan, dan pengembangan potensi anak.

Dengan biaya pendidikan yang terjangkau, sekolah berupaya membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan keluarga. Keterjangkauan biaya menjadi penting agar pendidikan yang menekankan literasi dan pembentukan karakter dapat semakin dekat dengan masyarakat.

Namun, kualitas pendidikan juga memerlukan upaya berkelanjutan. Penguatan kompetensi guru, pemanfaatan perpustakaan, pengembangan metode pembelajaran, pemeliharaan fasilitas, dan keterlibatan orang tua perlu terus berjalan bersama agar pengalaman belajar anak semakin bermakna.

Makanan Bergizi Gratis Mendukung Tumbuh Kembang Anak

Pendidikan yang baik juga memperhatikan kebutuhan dasar peserta didik. Selain pembelajaran, anak membutuhkan dukungan kesehatan dan gizi agar dapat tumbuh serta mengikuti kegiatan sekolah dengan baik.

SD Literasi Qur’ani mendapatkan bantuan makanan bergizi gratis yang menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap pemenuhan kebutuhan peserta didik. Program ini memiliki arti penting karena pendidikan anak tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik, tetapi juga dengan perhatian terhadap kesejahteraan dan tumbuh kembang mereka.

Pemenuhan gizi yang baik perlu disertai pembiasaan hidup bersih dan sehat, aktivitas fisik yang sesuai, serta dukungan keluarga. Apabila berbagai unsur tersebut berjalan bersama, lingkungan sekolah dapat semakin mendukung perkembangan anak secara menyeluruh.

Dalam konteks ini, gerakan literasi juga dapat diperluas menjadi literasi kesehatan. Anak belajar mengenal makanan bergizi, menjaga kebersihan, merawat tubuh, dan memahami kebiasaan hidup sehat melalui kegiatan yang sesuai dengan usia mereka.

Kolaborasi Universitas, Pemerintah Daerah, dan Mitra Masyarakat

Membangun pendidikan yang berkualitas membutuhkan kolaborasi. SD Literasi Qur’ani menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan mitra masyarakat sebagai bagian dari upaya memperluas dukungan terhadap penyelenggaraan pendidikan.

Kerja sama dengan universitas membuka peluang untuk mengembangkan kegiatan akademik, pendampingan pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, dan penguatan kapasitas pendidik. Pertukaran gagasan dengan kalangan akademisi juga dapat memperkaya cara sekolah mengembangkan literasi dan pembelajaran berbasis kebutuhan peserta didik.

Dukungan pemerintah daerah diperlukan untuk memperkuat ekosistem pendidikan dan memperluas jangkauan gerakan literasi di Kabupaten Rejang Lebong. Sementara itu, keterlibatan masyarakat dapat membantu menjadikan sekolah sebagai bagian yang hidup dari lingkungan sosialnya.

Kolaborasi tersebut semakin bermakna ketika diarahkan pada program yang memberikan manfaat nyata bagi anak, seperti pengembangan perpustakaan, kegiatan membaca bersama, pelatihan menulis, pertunjukan seni, pendampingan pembelajaran, serta pengenalan teknologi yang bertanggung jawab.

Kehadiran Gol A Gong sebagai Duta Baca Indonesia memberikan konteks penting bagi penguatan jejaring literasi tersebut. Gerakan literasi sekolah dapat menjadi jembatan yang mempertemukan semangat membaca dan menulis dengan kebutuhan pendidikan di tingkat lokal.

Dari sekolah di Desa Tasik Malaya, semangat membangun budaya literasi dapat berkembang melalui kerja sama berbagai pihak. Gerakan ini tidak harus menunggu fasilitas yang serba sempurna, tetapi dapat dimulai melalui kebiasaan membaca, kegiatan menulis, keteladanan guru, dan dukungan masyarakat.

Kepemimpinan Pendidikan dan Komitmen Bersama

Pengembangan SD Literasi Qur’ani didukung oleh kepemimpinan yayasan dan pengelola sekolah yang memiliki peran masing-masing dalam penyelenggaraan pendidikan. Dr. Sumarto, M.Pd.I, selaku Ketua Yayasan Literasi Kita Indonesia, berperan dalam mendukung arah pengembangan lembaga dan penguatan gerakan literasi yang terintegrasi dengan nilai-nilai keislaman.

Dr. Emmi Kholilah Harahap, M.Pd.I, selaku Pembina Unit Pendidikan Yayasan Literasi Kita Indonesia, turut berperan dalam pembinaan unit pendidikan dan penguatan orientasi pembelajaran yang berkarakter. Pada tingkat sekolah, Kasmawati, S.Pd.I., Gr., selaku Kepala SD Literasi Qur’ani, memiliki tanggung jawab dalam memimpin penyelenggaraan pendidikan dan mengoordinasikan pelaksanaan program sekolah.

Kepemimpinan tersebut didukung oleh Ceni Eka Putri Wulandari, M.Pd., Gr., Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, yang berperan dalam mendukung pembinaan peserta didik dan kegiatan kesiswaan, serta Suriyanti, M.Pd., Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, yang berperan dalam pengembangan dan koordinasi pelaksanaan kurikulum. Kolaborasi antara yayasan dan pengelola sekolah menjadi unsur penting untuk menjaga agar program keagamaan, literasi, pembelajaran akademik, kegiatan ekstrakurikuler, dan pengembangan karakter dapat saling mendukung.

Pada akhirnya, kualitas pendidikan bukan hanya ditentukan oleh satu program atau satu figur, melainkan oleh kerja bersama yang konsisten dalam menghadirkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, mendidik, dan memberikan ruang bagi anak untuk berkembang.

Menggerakkan Literasi dari Rejang Lebong untuk Indonesia

Kisah SD Literasi Qur’ani memperlihatkan bahwa gerakan literasi dapat tumbuh dari sekolah di pedesaan dan menjadi bagian dari upaya membangun pendidikan yang lebih luas. Perpaduan antara program keagamaan, perpustakaan sekolah, pengenalan teknologi, kegiatan seni dan olahraga, dukungan gizi, serta kemitraan menjadi modal untuk memperkaya pengalaman belajar peserta didik.

Bersama Gol A Gong, Duta Baca Indonesia, semangat literasi sekolah di Kabupaten Rejang Lebong memperoleh ruang untuk terus diperkuat. Anak-anak perlu didorong bukan hanya untuk membaca buku, tetapi juga berani bertanya, menyampaikan pendapat, menulis cerita, menciptakan karya, dan berbagi pengetahuan dengan orang lain.

Gerakan literasi membutuhkan keberlanjutan. Satu kegiatan dapat menjadi awal, tetapi budaya membaca dan menulis tumbuh melalui pembiasaan yang terus dilakukan di sekolah, rumah, dan masyarakat. Dari Desa Tasik Malaya, SD Literasi Qur’ani membawa harapan bahwa sekolah dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan generasi yang mencintai ilmu, dekat dengan Al-Qur’an, menghargai budaya, mampu mengembangkan potensi diri, dan memiliki kepedulian sosial.

Sebab, masa depan Indonesia tidak hanya dibangun melalui gedung-gedung pendidikan yang megah, tetapi juga melalui guru yang menginspirasi, anak-anak yang gemar membaca, keluarga yang mendukung, dan masyarakat yang mau bekerja bersama.

Literasi menyalakan pikiran, pendidikan Qur’ani menumbuhkan karakter, dan kolaborasi menguatkan masa depan. Dari Rejang Lebong untuk Indonesia, gerakan literasi sekolah menjadi ikhtiar bersama untuk membangun generasi yang berilmu, berakhlak mulia, kreatif, dan cinta tanah air. (Sum)

Exit mobile version