Pengorbanan berimplikasi pada kehormatan

Yanuardi Syukur
Manusia adalah makhluk pencari korban. Karena tabiatnya seperti itu maka Tuhan mengarahkan mereka dgn “pengorbanan suci”: berkurban dgn hewan tertentu, bersedekah kepada fuqoro’ dan masakin–fakir-miskin, berpuasa, belajar, hingga melawan hawa nafsu sebagai bentuk pengorbanan agar tidak mengikuti semua kehendak diri.
Pengorbanan berimplikasi pada kehormatan. Lihatlah orang terhormat; nama mereka ditulis dgn tinta emas dan diingat-ingat sejarah sebab karena mereka berkorban. Pengorbanan suci berorientasi akhir pada keteraturan. Itulah kenapa sampai saat ini yg namanya advokasi kemanusiaan tdk pernah mati, karena mereka harus berjuang melawan nafsu manusia yg senang mencari korban. Itulah kenapa kata ‘adil’ jadi penentu, karena manusia–pada kesadaran tertentu–cenderung berlaku tidak adil, tidak takwa, sebagai konsekuensi dari tabiat fujur (dosa) dan takwa yg Tuhan kasih.
Pengorbanan terbaik, pada akhirnya adalah melawan hawa nafsu, karena selain setan astral kita harus bergelut dgn setan diri yg kadang muncul karena egoisme dan nafsu. Setan (atau ‘jiwa kesetanan’) paling sering bikin orang jatuh korban ketika mereka tdk stabil dlm tiga situasi: terlalu senang, terlalu sedih, dan terlalu nafsu.
- SELAMAT DAN SUKSES WAKIL KEPALA SD LITERASI QUR’ANI DAN KEPALA PERPUSTAKAAN TERPILIH - April 12, 2026
- PKBM LITERASI QUR’ANI MELAKSANAKAN TKA PAKET A (SETARA SD) DAN PAKET B (SETARA SMP) - April 12, 2026
- KEMBAR SOLEHA SANTRI SD LITERASI QUR’ANI - April 12, 2026
Leave a Reply