TVRI Bengkulu “Menhir Situs Rimba” Kab. Rejang Lebong, Juhadi Penulis Buku, Editor dan Ilustrasi Gambar dari Sumarto

Juhadi dan Sumarto Informan “Menhir Situs Rimba” Kab. Rejang Lebong

REJANG LEBONG – Di antara hamparan perkebunan masyarakat dan bentang alam Desa Lawang Agung, Kecamatan Sindang Beliti Ulu, Kabupaten Rejang Lebong, tersimpan jejak sejarah masa lalu yang menyimpan cerita tentang peradaban, tradisi, dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Rejang. Sebuah peninggalan berupa batu menhir yang dikenal dengan nama Menhir Situs Rimba menjadi perhatian karena memiliki bentuk, simbol, dan kisah budaya yang menarik untuk ditelusuri. Kekayaan sejarah lokal tersebut mendapat ruang publikasi melalui program siaran TVRI Bengkulu yang mengangkat tema Menhir Situs Rimba sebagai bagian dari upaya memperkenalkan warisan budaya daerah kepada masyarakat luas.

Dalam tayangan tersebut, Sumarto hadir sebagai informan yang memberikan penjelasan mengenai keberadaan Menhir Situs Rimba, sejarah penemuan, serta nilai-nilai sosial dan budaya yang terkandung di dalamnya. Pembahasan ini juga berkaitan dengan buku Menhir Situs Rimba: Nilai-Nilai Kehidupan Masyarakat Rejang, karya Juhadi Sambal Duo, seorang penulis sekaligus tokoh masyarakat Desa Lawang Agung yang memiliki perhatian terhadap sejarah dan peninggalan budaya leluhur.

Menhir Situs Rimba, Jejak Sejarah di Tanah Rejang

Menhir Situs Rimba bukan sekadar batu yang berdiri sebagai peninggalan masa lampau. Keberadaannya menjadi pintu masuk untuk memahami perjalanan sejarah dan kebudayaan masyarakat di wilayah Rejang Lebong. Berbagai simbol yang terdapat pada batu tersebut menjadi perhatian dalam kajian sejarah lokal, terutama berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan, hubungan antarmanusia, spiritualitas, dan kearifan masyarakat dalam menjaga keseimbangan alam.

Menurut penuturan dan penafsiran Juhadi Sambal Duo dalam bukunya, simbol-simbol pada Menhir Situs Rimba memiliki pesan filosofis yang dapat dipelajari oleh generasi sekarang. Di antaranya terdapat simbol bunga melati, bintang delapan, pucuk rebung, serta bentuk tumbuhan yang merambat atau dikenal dengan istilah kondo atau linggur.

Setiap simbol tersebut ditafsirkan memiliki keterkaitan dengan kehidupan manusia. Bunga melati, misalnya, dimaknai sebagai lambang kesucian, kesopanan, dan budi pekerti. Sementara pucuk rebung menggambarkan perjalanan kehidupan manusia sejak masa kanak-kanak, tumbuh menjadi dewasa, menuntut ilmu, hingga menjadi pribadi yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat.

Adapun simbol kondo atau linggur memberikan gambaran bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri. Kehidupan membutuhkan kerja sama, saling membantu, dan membangun hubungan sosial. Filosofi ini menjadi pesan penting bahwa kekuatan masyarakat terletak pada kebersamaan dan kemampuan menjaga hubungan antarsesama.

Dalam konteks inilah Menhir Situs Rimba memiliki nilai penting, bukan hanya sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran mengenai kebudayaan dan karakter masyarakat Rejang.

Juhadi Sambal Duo, Penulis yang Merawat Ingatan Sejarah Leluhur

Di balik hadirnya buku Menhir Situs Rimba: Nilai-Nilai Kehidupan Masyarakat Rejang, terdapat sosok Juhadi Sambal Duo, seorang penulis dari Desa Lawang Agung yang berupaya mendokumentasikan sejarah, cerita, dan pengetahuan lokal mengenai peninggalan budaya di daerahnya.

Kecintaannya terhadap sejarah lokal menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya masyarakat Rejang kepada publik. Melalui buku tersebut, Juhadi menguraikan berbagai kisah mengenai simbol-simbol Menhir Situs Rimba, termasuk cerita Rie Tandan dan Puyang Remeon yang dalam narasi penulis dikaitkan dengan Kerajaan Sriwijaya.

Kisah tersebut menggambarkan hubungan antara tokoh-tokoh dalam tradisi lokal dengan nilai kepemimpinan, keberanian, penghormatan, dan sikap berbudi luhur. Narasi ini juga memberikan ruang bagi pembaca untuk memahami bagaimana masyarakat mewariskan nilai-nilai kehidupan melalui cerita dan simbol budaya.

Buku yang diterbitkan oleh LP2 IAIN Curup pada Februari 2021 tersebut memiliki ISBN 978-602-6884-57-2. Kehadirannya menjadi salah satu dokumentasi tertulis mengenai warisan sejarah dan nilai-nilai sosial budaya masyarakat Rejang. Bagi Juhadi, mendokumentasikan sejarah lokal merupakan bagian dari tanggung jawab menjaga ingatan kolektif masyarakat. Sebab, ketika cerita sejarah tidak ditulis dan diwariskan, generasi berikutnya berpotensi kehilangan pengetahuan mengenai asal-usul, tradisi, dan kekayaan budaya daerahnya.

Sumarto: Menhir Situs Rimba Harus Menjadi Sumber Belajar Generasi Muda

Sumarto yang hadir sebagai informan dalam program TVRI Bengkulu menjelaskan bahwa keberadaan Menhir Situs Rimba memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber literasi sejarah dan budaya lokal. Perhatian terhadap situs tersebut tidak hanya berhenti pada upaya mengenalkan bentuk fisik peninggalannya, tetapi juga perlu diarahkan pada pemahaman nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya.

Sumarto juga memiliki keterlibatan dalam proses penerbitan buku Menhir Situs Rimba. Berdasarkan keterangan pada halaman identitas buku, Dr. Sumarto, M.Pd.I tercatat sebagai editor dan penata letak bersama Ilmi Hartati Arles, sekaligus ilustrator gambar. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari kolaborasi dalam mendokumentasikan pengetahuan sejarah dan kebudayaan masyarakat Rejang ke dalam bentuk buku.

Menurut Sumarto, warisan sejarah lokal perlu diperkenalkan melalui berbagai media, baik buku, penelitian, dokumentasi visual, maupun siaran televisi. Kehadiran TVRI Bengkulu dalam mengangkat Menhir Situs Rimba merupakan salah satu bentuk publikasi yang dapat memperluas pengetahuan masyarakat tentang kekayaan sejarah Kabupaten Rejang Lebong.

Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran bersama untuk menjaga peninggalan sejarah sebagai warisan budaya yang memiliki nilai edukatif bagi generasi muda. Menhir Situs Rimba dapat dijadikan sumber belajar bagi peserta didik, mahasiswa, peneliti, guru, dan masyarakat umum. Melalui pembelajaran berbasis lingkungan dan sejarah lokal, generasi muda tidak hanya mengenal sejarah nasional, tetapi juga memahami kekayaan sejarah yang tumbuh di daerahnya sendiri.

Dengan demikian, situs sejarah dapat menjadi ruang pembelajaran kontekstual yang menghubungkan pengetahuan masa lalu dengan kehidupan masyarakat masa kini.

Dari Situs Sejarah Menjadi Ruang Literasi Budaya

Salah satu hal menarik dari Menhir Situs Rimba adalah keberadaan berbagai simbol yang menjadi bahan pembacaan dan penafsiran budaya. Buku karya Juhadi Sambal Duo menguraikan sejumlah pesan kehidupan yang dikaitkan dengan simbol-simbol tersebut. Nilai-nilai seperti kesantunan, kebersamaan, kepedulian terhadap lingkungan, tanggung jawab, dan penghormatan kepada sesama merupakan bagian dari pesan kehidupan yang dapat dijadikan bahan refleksi masyarakat.

Cerita Rie Tandan dan Puyang Remeon, misalnya, memberikan gambaran mengenai pentingnya sikap kesatria, kebijaksanaan, dan penghormatan terhadap orang lain. Sementara filosofi pucuk rebung mengajarkan bahwa manusia harus terus bertumbuh, menuntut ilmu, memiliki tanggung jawab, serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Nilai-nilai tersebut relevan untuk diperkenalkan kepada generasi muda melalui pendidikan sejarah, muatan lokal, kegiatan literasi sekolah, dan pengembangan wisata edukasi berbasis budaya.

Namun, berbagai penafsiran mengenai simbol dan keterkaitan sejarah Menhir Situs Rimba dengan Kerajaan Sriwijaya tetap perlu dikaji melalui penelitian arkeologi, sejarah, dan kajian budaya yang lebih mendalam. Dengan demikian, dokumentasi masyarakat, pengetahuan akademik, dan penelitian lapangan dapat saling melengkapi dalam membangun pemahaman sejarah yang lebih komprehensif.

Menjaga Cagar Budaya, Membangun Kesadaran Generasi

Publikasi Menhir Situs Rimba melalui TVRI Bengkulu menjadi momentum penting untuk membangun perhatian masyarakat terhadap peninggalan sejarah di Kabupaten Rejang Lebong. Warisan budaya tidak cukup hanya dikenali, tetapi juga membutuhkan perlindungan, pendokumentasian, penelitian, dan pengelolaan yang berkelanjutan.

Menhir Situs Rimba merupakan salah satu objek yang perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah, pemerhati budaya, akademisi, lembaga pendidikan, dan masyarakat setempat. Upaya pelestarian perlu dilakukan melalui pendataan, kajian ilmiah, perlindungan fisik, serta pengembangan informasi sejarah yang dapat diakses oleh publik. Dengan adanya perhatian dari berbagai pihak, peninggalan sejarah di Desa Lawang Agung berpotensi dikembangkan sebagai ruang edukasi dan wisata sejarah yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Lebih dari itu, keberadaan Menhir Situs Rimba mengingatkan kita bahwa setiap daerah memiliki cerita, identitas, dan kekayaan budaya yang patut dibanggakan. Sejarah tidak hanya berada dalam buku pelajaran atau museum, tetapi juga hadir di tengah kehidupan masyarakat, tersimpan dalam tradisi, cerita leluhur, dan peninggalan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Melalui siaran TVRI Bengkulu, buku karya Juhadi Sambal Duo menjadi salah satu referensi, serta keterlibatan Sumarto dalam dokumentasi dan pengenalan sejarah lokal, Menhir Situs Rimba semakin mendapatkan ruang dalam gerakan literasi sejarah dan budaya Kabupaten Rejang Lebong. Mari jaga cagar budaya, lestarikan warisan sejarah, dan jadikan Menhir Situs Rimba sebagai sumber belajar bagi generasi muda. Sebab, mengenal sejarah daerah adalah bagian dari membangun identitas, menghargai warisan leluhur, dan mewariskan pengetahuan untuk masa depan. (Sum)

Dokumentasi :

Leave a Reply

Your email address will not be published.