+62-852-27-281672
info@literasikitaindonesia.com

Jejak Islam di Barus: Titik Nol Pusat Peradaban Islam di Nusantara

(29/04/2019) Jejak Islam di Barus: Titik Nol Pusat Peradaban Islam di Nusantara, saya ingin menyampaikan hasil studi yang pernah kami lakukan pada tahun 2011 dan 2012 bersama STAIN Padangsdimpuan (sekarang IAIN Padangsidimpuan) dan Komunitas MAKALAH (Mahasiswa Karya Ilmiah) sahabat Muhammad Syafi’i, Ibnul Choir Siregar dan Rahmad Kurniawan.

•Penulis Lobu Tua Sejarah Barus: Claude Guillot adalah peneliti asal Perancis yang pernah menjadi dosen bahasa Perancis di berbagai universitas di Mesir, Tanzania dan Indonesia. Disertasinya membahas perjuangan Kiai Sadrach dan masyarakat Kristen pertama di Desa Karangjoso (1981). Kiai Sadrach (Radin): penyebar agama Kristen (penginjil) di tanah Jawa. Ia dilahirkan sekitar tahun 1835, di daerah Karesidenan Jepara. Sumber lain ada yang mengatakan dia lahir di karesidenan Demak. Gelar imamat Kyai masih melekat hingga kini, karena sebelum menjadi penginjil, dia adalah seorang muslim yang punya banyak pengikut.

•Daerah Barus, Tapanuli Tengah, masih mayoritas Nasrani •Perjalanan sekitar 2011 – 2012 yang kami lakukan, masih di jumpai banyak Babi sebagai hewan ternak di daerah Barus •Menuju lokasi tidak terlalu jauh dari Kota Sibolga, masih ada beberapa kendala jalan menuju Barus •Masyarakat Barus ramah terhadap pengunjung yang datang ketika hendak belajar dan ziarah, walaupun beda Agama •Di Barus banyak kita temukan situs Makam Penyebar Islam di Nusantara; diantaranya Makam Mahligai (Jumlah Makam yang paling banyak), Makam Tuanku Ambar, dan Makam Syekh Mahmud Papan Tinggi (berasal dari Yaman) beserta Makam Pengikutnya (ada sekitar 100 anak tangga menuju ke Makam)

•Masyarakat Barus masih meyakini adanya Agama “Parbegu” atau “Parmalim/ ugamo malim” agama yang di yakini sejak leluhur, kepercayaan animisme yang masih ada. •Ugamo Malim adalah agama asli “lokal” di kalangan masyarakat Batak Toba, Saat ini, jumlah pengikut aliran ini tidak memiliki data resmi, namun jumlahnya sekitar 5.000 jiwa. •Meyakini adanya tuhan, “mulajadi nabolon” dewa tertinggi dalam mitologi Batak, yang menciptakan tiga tingkat dunia yaitu Banua Ginjang, Banua Tonga dan Banua Toru. •Masih dilaksanakannya tradisi-tradisi ugamo malim oleh masyarakat Batak yang tinggal di daerah Barus, Ugama Malim; pengikutnya ada di daerah Tapanuli Utara, Balige, Samosir, Tapanuli Tengah.

•Hubungan ugama malim dengan penyebaran agama Islam di daerah Tapanuli; Sisingamaharaja XII, berdasarkan hasil studi yang di lakukan di Aceh, ada keterhubungannya dengan Kerajaan Samudera Pasai, bahwasanya Sisingamaharaja ada hubungan dengan pedagang muslim yang datang ke Tapanuli. •Masuknya ekspansi, penjajahan Belanda ke Tapanuli, dengan misi gold, glory dan gospel. •Misi gospel adalah misi menyebarkan agama Kristen di daerah Tapanuli, sehingga banyak tradisi ugama malim yang menyatu dengan ajaran agama Kristen, sebagai bentuk inkulturalisasi. Begitu juga yang terjadi di daerah Barus.

•Abad ke- 6 Masehi, rempah-rempah dari Barus (Terutama Tanaman Kamper yaitu sering disebut Kapur Barus, yang sangat disukai orang Timur Tengah) menjadi Pusat Perdagangan yang banyak di cari oleh para pedagang Arab, India, Cina, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis dan dari daerah lainnya. •“Lobu Tua Sejarah awal Barus” Buku yang ditulis Penliti dari Perancis Claude Gulliot. •Ahli Geografi Abad ke-11 Masehi Claudius Ptolemeus pernah menyebut nama “Barousai” ada anggapan sebutan nama daerah “Barus” •Presiden Joko Widodo meresmikan Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara di Kecamatan Barus Tapanuli Tengah.

Tugu Islam Nusantara, Barus Indonesia
Presiden Joko Widodo meresmikan Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam, di Barus Indonesia
Buku Barus Seribu Tahun Lalu yang ditulis Claude Guillot Peneliti dari Perancis
Jejak Sejarah Islam di Barus (Makam Mahligai)

Jejak Sejarah Islam di Barus (Makam Mahligai)

Jejak Sejarah Islam di Barus (Makam Mahligai)

Jejak Sejarah Islam di Barus (Makam Mahligai)
Kunjungan kami di
Jejak Sejarah Islam di Barus (Makam Mahligai)
Ziarah ke Makam Syekh Mahmud Papan Tinggi Barus

Sumarto sumarto

Menulis tidak hanya menulis, tetapi menulis harus dengan pengetahuan, karena tulisan butuh pengakuan yaitu keilmuan menulis tentang apa yang ingin di tulis
Sumarto sumarto

Respond For " Jejak Islam di Barus: Titik Nol Pusat Peradaban Islam di Nusantara "