+62-852-27-281672
info@literasikitaindonesia.com

KH. Hasjim Asy’arie “Resolusi Jihad”, Semangat Bung Tomo, Hingga Tewasnya Jenderal Mallaby

Sumarto “dengan kesempatan waktu yang ada, kesehatan yang ada dan keberkahan hidup, ingin menuliskan sedikit tentang Hari Santri Nasional 22 Oktober dari hasil pemikiran dan beberapa kutipan” Tentunya kami pengurus Yayasan Literasi Kita Indonesia mengucapkan “Selamat Hari Santri Nasional” tidak sekedar ucapan atau peringatan semata, tetapi suatu pelajaran yang harus dipelajari, di renungi dan di amalkan dari setiap perjuangan para ulama dan santri yang turut serta berjuang, rela berkorban harta bahkan jiwa untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dari tangan penjajah.

Moment memperingati Hari Santri Nasional Bersama Para Mahasiswa, yang juga nyantri di Ma’had Al Jami’ah IAIN Curup

Ini adalah panggilan jihad untuk berjuang meraih yang terbaik demi Allah, bangsa dan Negara. Sehingga perjuangan KH Hasjim Asy’ari, para ulama lainnya dan santri – santri adalah bukti kenegaraan yang harus menjadi pelajaran bagi kita sekarang. Ada beberapa hal penting dalam peringatan hari santri 22 Oktober yaitu;

1. Melalui Kementerian Agama RI mengusung tema Internasional yaitu Santri untuk Perdamaian Dunia, karena keberadaan santri menjadi karakter keperibadian yang damai, toleran dan saling menghormati kemajemukan yang menjadi indicator untuk perdamaian dunia,

2. Pondok Pesantren adalah Laboratorium Perdamaian Dunia, karena di Pondok Pesantren menjadi proses untuk menjadi pribadi – pribadi yang luhur sesuai dengan pesan agama, dimana setiap prosesnya di lalui dengan penuh keikhlasan dan kesadaran dalam menerima setiap hikmah dalam pelajaran di kelas, pelajaran hidup dan pelajaran arti keberkahan untuk hidup, sehingga adanya Pondok Pesantren, kehadiran Ulam/  Kyai dan para santri menjadi kekuatan untuk menghadirkan perdamaian dunia,

3. Ulama/ Kyai adalah pewaris Nabi, yang menyampaikan ajaran – ajaran perdamaian, tentang hidup yang lebih santun, lebih ramah, lebih toleran dan saling memberi nasihat dalam kebaikan, kesabaran dan kebenaran, sehingga momentum hari santri menggambarkan, bahwa peran Ulama/ Kyai dan santri sangat menjunjung nilai – nilai kebangsaan, karena cinta tanah air bangsa dan Negara adalah bagian besar dari kehidupan beragama, dan penjajah yang mengambil hak yang bukan haknya, melakukan tindakan kekerasan dan perampasan harus di hapuskan, karena melanggar setiap norma agama dan hukum yang ada.

Segenap Civitas Akademika IAIN Curup mengucapkan Selamat Hari Santri “Santri Untuk Perdamian Dunia” Pondok Pesantren sebagai Laboratorium Perdamaian

Mengutip dari laman wikipedia Hari Santri Nasional (HSN) jatuh pada tanggal 22 Oktober setiap tahunnya. Peringatan ini, ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 22 Oktober 2015 di Masjid Istiqlal Jakarta. Penetapan Hari Santri Nasional dimaksudkan untuk mengingat dan meneladani semangat jihad para santri merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang digelorakan para ulama. Tanggal 22 Oktober merujuk pada satu peristiwa bersejarah yakni seruan yang dibacakan oleh Pahlawan Nasional KH Hasjim Asy’ari pada 22 Oktober 1945.

Seruan ini berisikan perintah kepada umat Islam untuk berperang (jihad) melawan tentara Sekutu yang ingin menjajah kembali wilayah Republik Indonesia pasca-Proklamasi Kemerdekaan. Sekutu ini maksudnya adalah Inggris sebagai pemenang Perang Dunia II untuk mengambil alih tanah jajahan Jepang. Di belakang tentara Inggris, rupanya ada pasukan Belanda yang ikut mendukung. Aspek lain yang melatarbelakangi penetapan HSN ini adalah pengakuan resmi pemerintah Republik Indonesia atas peran besar umat Islam dalam berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan serta menjaga NKRI.

Mengutip dari laman kompas.com, menurut Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Komaruddin Amin, perjuangan para KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, dan Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto menciptakan organisasi Islam sangat berperan penting dalam perjalanan bangsa. “Mereka merupakan tokoh yang memiliki komitmen Islam dan komitmen kebangsaan yang luar biasa. Hal inilah yang harus terus kita kenang,” kata Komaruddin. Saat itu, Hasyim Asy’ari yang menjabat sebagai Rais Akbar PBNU menetapkan Resolusi Jihad melawan pasukan kolonial di Surabaya, Jawa Timur.

Peran ini sangat terlihat pada tanggal 21 dan 22 Oktober 1945 saat pengurus NU Jawa dan Madura menggelar pertemuan di Surabaya. Pertemuan tersebut dilakukan untuk menyatakan sikap setelah mendengar tentara Belanda berupaya kembali menguasai Indonesia dengan membonceng Sekutu. Pada 22 Oktober 1945, Hasym Asy’ari menyerukan imbauan kepada santri untuk berjuang demi Tanah Air. Resolusi itu disampaikan kepada pemerintah dan umat Islam Indonesia untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan bangsa.

Pada akhirnya, resolusi ini membawa pengaruh yang besar. Bahkan, ada dampak besar setelah Hasyim Asy’ari meneyrukan resolusi ini. Hal ini kemudian membuat rakyat dan santri melakukan perlawanan sengit dalam pertempuran di Surabaya. Banyak santri dan massa yang aktif terlibat dalam pertempuran ini. Perlawanan rakyat dan kalangan santri ini kemudian membuat semangat pemuda Surabaya dan Bung Tomo turut terbakar.

Hingga akhirnya perjuangan tersebut menewaskan pemimpin Sekutu Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby. Mallaby tewas dalam pertempuran yang berlangsung pada 27-29 Oktober 1945. Hal inilah yang memicu pertempuran 10 November 1945. Oleh karena itu, Komaruddin melanjutkan Hari Santri merupakan sebuah pemaknaan sejarah yang otentik, ketika perjuangan bangsa dibangun di atas keikhlasan dan ketulusan para santri yang berpaham merah putih.

Berdasarkan laman detiknews.com, Menteri Agama berkolaborasi dengan Menteri Luar Negeri mengusung tema “Santri untuk Perdamaian Dunia” pada peringatan Hari Santri Nasional 2019. Kali ini temanya berskala internasional. Sebelumnya pada 2018 mengangkat tema “Bersama Santri Damailah Negeri” yang sifatnya domestik. Tujuan diusungnya tema “Santri untuk Perdamaian Dunia” ini untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai negara muslim moderat terbesar di dunia yang berkontribusi nyata untuk perdamaian dunia serta menghilangkan stigma tentang pendidikan Islam sebagai sumber ajaran ekstremisme dan radikalisme.

“Santri untuk Perdamaian Dunia” juga diharapkan dapat memaksimalkan kontribusi Indonesia selama menjadi Dewan Keamanan Tidak Tetap PBB periode 2019-2020. Indonesia ingin memproyeksikan nilai-nilai moderasi Islam dan toleransi serta menonjolkan kiprah santri dengan pesantren dalam merealisasikan perdamaian dunia dengan tidak menginginkan terjadinya kolonialisme, radikalisme, terorisme, dan ekstrimisme.

Tema yang diusung masih sangat relevan dengan masa sekarang untuk mengukur sejauh mana peran santri yang didukung pendidikan pondok pesantren untuk dunia. Berbagai belahan dunia pernah mengalami konflik yang cukup mencekam dan korban dari semuanya tertuju pada Islam. Konflik tergambar jelas ketika bencana kemanusiaan pernah terjadi pada penduduk sipil Rohingya yang termarjinalisasi di Myanmar. Krisis keamanan terjadi di Afghanistan, Sudan, dan Yaman. Begitu pula perseteruan yang panjang antara Israel kepada Palestina.

Santri yang beriringan dengan pesantren sebagai pengayomnya dalam membantu dakwah moderasi Islam membentengi akidah umat dan mewariskan karakter luhur di Indonesia sudah cukup menjadi modal dalam merealisasikan perdamaian dunia. Sejatinya gaya hidup santri yang humanis, inklusif, mandiri, sederhana, dan toleran yang pernah saya rasakan juga saat belajar di pesantren rasanya dapat diaktualisasikan dalam kehidupan bangsa Indonesia.

Para cendekiawan saja sering merujuk kepada pesantren tatkala berbicara tentang pentingnya pendidikan karakter. Artinya pesantren sudah masuk kategori institusi yang berhasil menanamkan nilai-nilai karakter secara praktis pada santri sehingga dapat diteladani oleh banyak orang.

KH. Hasjim Asy’arie “Resolusi Jihad”, Semangat Bung Tomo, Hingga Tewasnya Aubertin Walter Sothern Mallaby. Rangkaian dari perjuangan yang dilakukan oleh Ulama/ Kyai, Santri dan Pemuda Indonesia untuk mempertahan kemerdekaan Indonesia, hingga akhirnya Jenderal Mallaby tewas, memicu pertempuran 10 November, pertempuran para pahlawan yang merelakan jiwa dan hartanya untuk bangsa negara, hingga akhirnya di peringati hari Pahlawan Nasional. Konsep Santri untuk perdamaian dunia adalah proses perjuangan untuk melakukan perdamaian, menentang kekerasan dan penjajahan.

Sumarto sumarto

Menulis tidak hanya menulis, tetapi menulis harus dengan pengetahuan, karena tulisan butuh pengakuan yaitu keilmuan menulis tentang apa yang ingin di tulis
Sumarto sumarto

Respond For " KH. Hasjim Asy’arie “Resolusi Jihad”, Semangat Bung Tomo, Hingga Tewasnya Jenderal Mallaby "