KOMITMEN KEBANGSAAN, WUJUD NYATA PANCASILA

Bapak Paulus Tasik Galle’ dari Pusat Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama RI. Bertemu kembali dengan beliau dalam kegiatan Training of Trainer penguatan moderasi agama pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pertemuan yang tidak terduga bisa belajar dan berdiskusi kembali lagi dengan beliau yang sebelumnya kami pernah bertemu belajar dalam program yang berhubungan dengan Kerukunan ummat beragama di desa sindang jati Kecamatan sindang kelingi Kabupaten Rejang Lebong.
Desa Sindang jati adalah Desa Pancasila yang sudah ditetapkan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia BPIP RI melalui hasil kajian diskusi dan penelitian yang dilakukan oleh tim dosen dari IAIN Curup Kementerian Agama bersama Yayasan literasi Kita Indonesia.

Desa Sindang jati merupakan representasi Desa Pancasila Desa kerukunan umat beragama di mana masyarakat yang ada di desa Sindang jati memiliki kemajemukan agama gimana masyarakatnya ada yang beragama Islam beragama Kristen protestan Kristen Katolik beragama Buddha yang tinggal di desa tersebut dengan damai dan rukun tidak hanya majemuk secara agama masyarakat di desa Sindang jati juga majemuk budaya ras etnis dan bahasa.

Walaupun kemajemukan itu ada tetapi masyarakat desa sindang jati selalu hidup rukun dan damai dan ini sudah berlangsung puluhan tahun yang lalu sehingga Desa Sindang jati merupakan contoh teladan bagi desa-desa lain tidak hanya yang ada di Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu tetapi daerah-daerah lain yang ada di provinsi kabupaten kota di Indonesia.
Pada proses Desa Sindang jati ditetapkan sebagai Desa Pancasila oleh BPIP RI, peran besar pusat kerukunan umat beragama Kementerian Agama RI sungguh luar biasa mulai dari dukungan motivasi diskusi dan penelitian sehingga Desa Sindang jati juga merupakan Desa kerukunan umat beragama laboratorium faktual Rumah Moderasi Beragama IAIN Curup.
Pertemuan kembali dengan bapak Paulus dalam kegiatan training of trainer penguatan moderasi beragama bagi dosen perguruan tinggi keagamaan pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melanjutkan diskusi dan kajian tentang kemajemukan yang ada di Indonesia moderasi beragama dan kerukunan umat beragama.
Bapak Paulus menjadi salah satu Master of trainer dalam kegiatan TOT tentu kesempatan besar bagi kami melanjutkan diskusi dan belajar yang sebelumnya kami lakukan di desa Sindang jati Kecamatan Sindang kelingi tentang moderasi beragama dengan kerukunan umat beragama.
Proses belajar dan diskusi bersama beliau sangat menyenangkan bagaimana kita dalam moderasi beragama harus memiliki komitmen kebangsaan anti terhadap kekerasan bersikap toleran dan ramah terhadap budaya lokal indikator moderasi beragama ini menjadi sangat penting tidak hanya secara teori dalam kegiatan training of trainer tanggung jawab dalam hal aplikasi di lapangan atau lingkungan masyarakat.

Salah satu pendekatan yang kita diskusikan adalah pendekatan gunung es atau ice berg analysis dan U proses, di mana kita belajar memahami bahwa setiap kejadian yang terjadi itu seperti gunung es yang ada di atas permukaan dan ukurannya tentu kecil kami adalah bongkahan es yang sangat besar di bawahnya hal inilah yang harus diketahui oleh kita insan yang moderat ketika menyelesaikan suatu permasalahan Jangan melihat dari permukaan tapi melihat dari bawah permukaan tersebut.
Pendekatan Ice Berg Analysis yaitu Pemikiran sistem atau cara mendekati masalah dengan menanyakan bagaimana berbagai elemen dalam suatu sistem yang bisa berupa ekosistem, organisasi, atau sesuatu yang lebih tersebar seperti rantai pasokan saling mempengaruhi.
Problem kemajemukan yang tampak di permukaan tentu sangat jelas kita lihat sebagai contoh konflik yang pernah terjadi di Ambon atau konflik yang pernah terjadi di Sampang Madura kita melihat konflik tersebut Jangan hanya di bagian permukaannya saja dalam pendekatan iceberg analisis apa yang tampak di permukaan tersebut tidak sesederhana apa yang kita pikirkan, sehingga untuk menyelesaikan konflik tersebut kita harus menyelaminya dengan proses di mana kita menyelam ke bawah dasar laut tersebut untuk melihat besarnya bongkahan es yang ada di bawah permukaan di sana.

Bongkahan es terdiri dari tiga level yaitu setelah bagian permukaan kemudian di bawahnya ada tingkat pola bahwa sebenarnya apa yang terjadi di permukaan tentu memiliki pola yang bersumber dari perilaku kemudian dampak dari kebijakan pemerintah dan dampak dari perilaku sosial kebudayaan yang ada di masyarakat tersebut.
Pada level berikutnya adalah tingkat struktur yang memiliki penjelasan bahwa konflik yang muncul di permukaan itu dikarenakan pola perilaku atau sikap sosial kebudayaan yang ada di daerah atau lingkungan masyarakat tersebut yang terstruktur baik dalam bentuk organisasi atau komunitas di mana melakukan kegiatan tersebut secara sistematis dan berkelanjutan.

Sehingga sangat sulit untuk diubah sehingga peran besar dari Insan moderat atau trainer penguatan moderasi beragama harus mampu menyelami setiap konflik yang ada melalui tingkatan pola tingkatan struktur sampai dengan mental model atau dasar keyakinan atau klaim kebenaran yang mereka yakini.
Paling bawah adalah tingkat mental model yaitu sikap, keyakinan, moral, harapan, dan nilai-nilai yang memungkinkan struktur untuk terus berfungsi sebagaimana adanya. Ini adalah keyakinan yang sering kita pelajari secara tidak sadar dari masyarakat atau keluarga kita dan mungkin tidak kita sadari.
Tentunya dengan pendekatan iceberg analysis kita mampu melihat dan menyelami setiap konflik yang muncul di permukaan secara komprehensif karena setiap tingkatan konflik tersebut kita pelajari mulai dari tingkatan pola tingkatan struktur hingga tingkatan yang paling dasar adalah tingkatan mental model yang merupakan klaim kebenaran keyakinan yang sudah sejak lama mereka yakini dan menjadi suatu kebiasaan tradisi yang dilakukan secara terus-menerus.
Berdiskusi dengan bapak Paulus tentu kita mencoba mengingat kembali Bagaimana kegiatan diskusi kita ketika di desa Sindang jati Kecamatan sindangkeling Kabupaten Rejang Lebong bahwasanya Indonesia yang majemuk harus selalu kita jaga harus selalu kita rawat karena banyak negara-negara di dunia yang sekarang sudah terpecah belah karena ketidakmampuan negara tersebut untuk menjaga kemajemukan yang ada di negaranya dengan sikap terbuka dengan sikap yang tidak eksklusif kemudian kurangnya toleransi terhadap kemajemukan
yang ada baik agama suku ras etnis dan bahasa.

Indonesia hadir dengan gagasan moderasi beragama menjadi kekuatan untuk menjaga kerukunan kesejahteraan umat beragama yang dituangkan dalam peta jalan Penguatan Moderasi Beragama 2020-2024 ini disusun melalui proses diskusi panjang dengan melibatkan para stakeholder, baik dari unsur Kementerian/ Lembaga maupun masyarakat. Rumusan dan kerangka utama Peta Jalan ini mengikuti norma yang telah ditetapkan dalam RPJMN 2020-2024.
Melaksanakan lina prinsip moderasi beragama yang harus dipedomani oleh setiap pemeluk agama, yakni martabat kemanusiaan, kemaslahatan umat (bonum commune), keadilan, keberimbangan, dan ketaatan pada konstitusi.
Diskusi terus berlanjut meluaskan pemikiran kita dan membuat kita berjiwa Besar dan tidak langsung menyalahkan tidak bersikap berlebih-lebihan tidak eksklusif dan ekstrem melihat gejala-gejala atau bahkan gesekan gesekan sosial yang terjadi namun harus dilakukan dengan gagasan moderasi beragama. (Sumarto)

- SELAMAT DAN SUKSES WAKIL KEPALA SD LITERASI QUR’ANI DAN KEPALA PERPUSTAKAAN TERPILIH - April 12, 2026
- PKBM LITERASI QUR’ANI MELAKSANAKAN TKA PAKET A (SETARA SD) DAN PAKET B (SETARA SMP) - April 12, 2026
- KEMBAR SOLEHA SANTRI SD LITERASI QUR’ANI - April 12, 2026
Leave a Reply