+62-852-27-281672
info@literasikitaindonesia.com

Kematian…Mengingat dan Mempersiapkannya…”

Gabby Maureen Pricilia – IPTS Padangsidimpuan – Sumatera Utara

Berapa kali kita tersentak mendengar kabar tentang kematian. Baru saja kita melihatnya, berinteraksi dengannya, lalu esoknya kita mendapati kabar bahwa ia sudah tiada, pergi untuk selamanya. Atau ia yang berjuang melawan sakitnya, sampai akhirnya menghembuskan napas terakhirnya. Tak mengenal usia tua atau muda, tak kenal rupa maupun harta, kaya atau miskin sama saja, yang sakit bahkan yang sehat, kematian datang begitu nyata.

Kita sadar bahwa kita tidak bisa mengelak darinya, sedetik pun tak bisa.

Jika waktu yang ditetapkan itu tiba, “..kematian yang kita lari darinya, kematian itu akan menemui kita..” (Qs. Jumuah: 8)

“Di mana pun kamu berada, kematian itu akan mendapatkanmu, sekalipun kamu di dalam benteng yang tinggi dan kokoh..” (Qs. An-Nisa:78)

Menakutkan. Kematian adalah pemutus kenikmatan. Tidakkah kita sadar, saat orang di sekitar kita telah dijemput kematian, waktu tidak akan pernah bisa kembali? Berapa banyak air mata yang tumpah membasahi bumi, menggaungkan penyesalan yang tak bertepi? Betapa kita ingin melihat senyumnya, mendengar tawanya, memeluknya. Tapi tak pernah bisa..karena waktu tak akan kembali. Orang yang sudah pergi menghadap Ilahi,  takkan mungkin kembali.

Saat itulah kita menyadari betapa singkatnya hidup ini.

Namun tak sedikit dari kita yang masih bisa merasakan hidup sampai hari ini, belum juga berbenah diri. Kita tidak sadar bahwa kain kafan kita sedang ditenun, bahwa sisa umur kita semakin berkurang, bahwa kesempatan kita semakin sempit. Lihatlah, mereka yang sudah pergi itu, tidak pernah bisa kembali. Tapi kita masih sibuk dengan urusan dunia ini, ingin hidup seribu tahun lagi tapi tak mengisi kantung amal untuk akhirat nanti. Kita masih sibuk menjadi hamba dunia, yang bangun tidur periksa hp, buka sosmed, buka youtube, cek model baju terbaru, tren terbaru, sibuk menimbun harta tapi lupa upgrade ilmu agama, tak ingat baca qur’an, apalagi tambah hafalan, tak pernah sedekah, masih suka ghibah, masih maksiat, mendendam sampai berkarat, memupuk penyakit hati, masih sombong, tidak sholat, tidak dzikir, tidak ingat Allah..

Apa yang akan kita bawa jika dalam seketika kematian datang menjemput kita?

Apa yang bisa menolong kita saat malaikat datang bertanya?

Ijazah kita yang sampai S3? Harta kita yang bermilyar jumlahnya? Jabatan kita yang tinggi? Gelar kehormatan yang kita dapat di dunia? Perhiasan emas, intan berlian berkilo-kilo yang kita punya? Mobil mewah yang kita bangga-banggakan? Wajah rupawan dan moleknya tubuh yang dipamer-pamerkan? Teman-teman yang kita sayang? Artis-artis yang kita idolakan?

“Mayit akan diikuti oleh tiga perkara menuju kuburnya. Dua akan pergi, satu akan tinggal. Mayit akan diikuti keluarganya, hartanya dan amalnya. Keluarga dan harta akan pergi, tapi amal akan tinggal.” (HR. Bukhari)

Keluarga yang menangisi, yang kita cintai dan mencintai kita, harta yang mengiringi, semuanya pergi.. Yang tinggal menemani kita hanya amal. Amal.. Amal.. Amal..  Lalu, tanyakan pada diri kita. Bagaimana amal kita? Seberapa banyak amal yang akan menemani kita? Amal apa yang sudah kita kumpulkan sebagai bekal kita? Yaa Allah.. Amalku masih compang-camping. Bukan aku takut menemuiMu, tapi aku takut karena bekalku sangat sedikit untuk menemuiMu. Aku takut sebab aku belum memanfaatkan hidupku untuk menemuiMu dalam keadaan terbaik diriku. Ampuni amalku yang masih secuil ini. Beri aku waktu untuk mengumpul bekal sebelum Kau menjemputku. Tolong aku.. Yaa Allah, aku belum siap mati..

Tiap-tiap yang bernyawa pasti merasakan mati. Maka kita pasti mati. Hari ini kita mendengar kabar kematian orang lain, nanti pada giliran kita, orang lain mendengar kabar kematian kita. Jadikanlah kematian sebagai nasihat terbaik untuk kita.

“Orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat mati dan mempersiapkan kematiannya..” (HR. Ibnu Majah)

Tulisan pengingat diri. Mari berbenah diri, atas semua yang dititipkanNya pada kita semoga menjadi ladang amal kita

Sumarto sumarto

Menulis tidak hanya menulis, tetapi menulis harus dengan pengetahuan, karena tulisan butuh pengakuan yaitu keilmuan menulis tentang apa yang ingin di tulis
Sumarto sumarto

Respond For " Kematian…Mengingat dan Mempersiapkannya…” "