+62-852-27-281672
info@literasikitaindonesia.com

Ma’isyata-an dankā “(penghidupan yang sempit)”

Mara Ongku Hsb, SH

Suatu ketika penulis sedang berkunjung kesalah satu guru yang menjadi ikutan (tābi’) dalam kehidupan akademis khususnya namun bukan hanya dibidang akademis saja tetapi disegala hal dalam kehidupan ini kalau guru tetaplah menjadi suluh didalam penerang kegelapan hidup ini, sebelum sampai ketempat guru memang banyak  rintangan yang penulis lalui diantaranya adalah keliling-keliling bingung dijalan karena tidak tahu alamat  yang pasti, memang benar kata orang “malu bertanya jalan-jalan tetapi sebelumnya saya sudah bertanya kepada salah satu warga dan tempat bertanya saya kenal sekali dengan guru yang akan saya jumpai.

Namun petunjuk jalan juga bisa salah seperti yang dirasakan oleh penulis bagaimana tidak mutar-mutar penulis juga baru pertama ke tempat guru masyarakat luas juga pasti mengatakan itu hal yang wajar karena baru pertama, tetap jangan coba-coba yang kedua kalau masih salah dijalan yang salah itu bukan hal yang wajar lagi perlu intropeksi diri mendalam. Yang paling mengesankan sekaligus menyulitkan ketika kendaraan habis bensin memang jika hal ini saya katakan kepada teman-teman waktu kuliah saya dulu pasti bagi mereka tidak asing lagi kalau saya sering kasus seperti itu habis bensin ditengah jalan mereka bilang saya lalai, dan malas mengisi bensin honda, sebenarnya prinsip saya berbeda dengan apa yang dikatakan oleh mekeka sahabat-sahabat saya.

Pada prinsipnya adalah karena saya selalu berpikiran positif yang tinggi dan keyakinan yang kuat bahwa bensin di dalam honda saya masih banyak, rupanya terlalu kuat dengan keyakinan tanpa mempertimbangkan situasi kondisi dan demografi perjalanan bisa saja membuat kita salah taksase, begitulah penulis yang alami ketika berkunjung tersebut mendorong honda yang habis bensin parahnya mendorong honda ditanjakan tinggi seperti gunung-gunung lihatlah keadaan jalan di jalan Bata itu Rejosari betapa banyaknya bukit-bukit itu sudah saya lalui dengan mengiring kendaraan honda saya hingga saya menemukan jual bensin dan jual sipenjual bensin pun kasihan melihat saya karena sudah sesak-sesak menarik nafas sangkin beratnya honda yang didorong diatas tanjakan yang tinggi hampir menyamai Gunung Sinabung yang di Medan (khayal).

Lalu timbulah pertanyaan kenapa tidak ditelepon saja atau di WhatsApp saja jaman sekarang kan sudah canggih, jawaban saya iya betul zaman sekarang cepat ditambah lagi google maps yang hampir tau akan segala jalan dipermukaan bumi ini tapi pendapat ini jangan terlalu diikuti karena ada saya dengar berita online di Jawa salah satu media online gara-gara mengikuti google maps ujungnya tidak sampai kepada tujuan tetapi apa yang terjadi gara-gara mengiktui google maps mereka sampai kebelantaran hutan, bayangkan kalau kita seperti itu. Tetapi itu hanya sebatas pendapat menurut sebagian saja.

Jawaban penulis adalah kenapa tidak menghubungi langsung, karena ini merupakan salah satu adab terhadap guru, kita tidak mau guru terganggu gara-gara kita saja yang mencari alamat guru karena tujuan mencari guru itu sudah diberi jalan oleh Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. ­al-hasil kita akhirnya ketemu juga dan sampai berjumpa dengan wajah yang tenang ketika melihat guru kita. Dan sempat mengikuti aktifitas pengajiannya yang sangat banyak arti dan maknanya dalam kehidupan ini. Diantaranya adalah:

Merujuk kepada al-Qur’an surah Thahaa  [20]: 124.

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.(Q.S.Thaha  [20]: 124)

Ayat diatas menjadi inspirasi bagi kita dalam kehidupan jika kita ingin sukses dan jauh dari kegelisahan dan selalu berdampingan dengan sa’adah (kebahagiaan), pada hakikatnya inilah rata-rata yang ingin dicapai oleh kemajemukan masyarakat. Pada ayat diatas pada kalimat ma’isyata-andankā (penghidupan yang sempit), itu ada pada rasa seperti risau, dulu sebelum dapat kerja risau, setelah dapat kerja pun risau, dulu sebelum wisuda risau, setelah wisuda risau, memang hidup ini tidak terlepas dari risau, perasaan takut, penyebab orang berpaling dari Allah.

Betapa banyak diantara kita hari ini yang mengeluh terutama pada term rezeki, harta, tahta, sehingga banyak mengambil jalan salah padahal ada jalan benar (sirāt al-mustaqīm), padahal inti permasalahannya adalah karena a’raḍ ‘an ẓikrī (berpaling dari peringatan-Ku), kata Allah. Tidak sadar kita lupa kepada Allah bahwa Allah yeng memberikan segalanya kepada kita, maka jangan heran kalau hidup kita sempit, susah, risau, galau, itu penyebanya adalah karena berpaling dari Allah, oleh karena itu solusinya adalah seperi dalam pengajian bersama Bapak Dr.Zulkayandri harus kembali kepada Allah, taubat, tawaju, kembali kehadapan Allah maka ayat diatas siapa yang berpaling dari Allah diancam kehidupan yang sempit (ma’isyata-andankā), lalu bagaimanakah itu menghadap kepada Allah yaitu jasad berzikir, jiwa berzikir, roh berzikir, oleh karena itu kita takut pada Allah dan taat kepada Allah jalan menghadap kepada Allah supaya hidup kita tidak sempit (ma’isyata-andankā). Mari melatih diri (riyadah) untuk mendekatkan diri kepada-Nya supaya hidup bahagia fi dunya wa al-akhirat. Wallahul Muwafiq ilā aqwāmi al-Thāriq.

Sumarto sumarto

Menulis tidak hanya menulis, tetapi menulis harus dengan pengetahuan, karena tulisan butuh pengakuan yaitu keilmuan menulis tentang apa yang ingin di tulis
Sumarto sumarto

Respond For " Ma’isyata-an dankā “(penghidupan yang sempit)” "