+62-852-27-281672
info@literasikitaindonesia.com

Hari Jadi Kota Curup Ke 139 Tahun 2019, Budaya Daerah Membangun Semangat Kerja yang Berkarakter Relegius

Sumarto – IAIN Curup – Komunitas – Literasi Kita Indonesia

Hari Jadi Kota Curup, Rejang Lebong dapat dilihat dari ramainya kunjungan dan antusias dari masyarakat untuk meramaikan dan memperingatinya. Tidak sekedar meramaikan, tetapi juga belajar dari perjalanan panjang sejarah perjuangan dan buadaya masyarakat Rejang Lebong. Sudah berlangsung selama 139 Tahun yang silam, bagaimana masyarakat Rejang lebong terbangun dan terstruktrur dalam bingkai tatanan social yang ada pada saat itu. Sistem kehidupan yang syarat dengan budaya yang ada, mulai dari budaya seni tari, music, jenis makanan, minuman, peralatan yang digunakan dalam pekerjaan sehari-hari menjadi bukti perkembangan budaya masyarakat Rejang Lebong.

Telusuri Sejarah Masyarakat Curup, Rejang Lebong
Telusuri Sejarah Masyarakat Curup, Rejang Lebong
Foto Bupati Rejang Lebong, Curup dari MASA KE MASA
Pakaian Adat Masyarakat Rejang Lebong, Curup

Sejarah Kota Curup, tidak terlepas dengan keberadaan masyarakat Rejang atau suku Rejang yang menempati kabupaten Rejang Lebong, kabupaten Kepahiang, kabupaten Bengkulu Utara, kabupaten Bengkulu Tengah, dan kabupaten Lebong. Suku ini merupakan suku dengan populasi terbesar di provinsi Bengkulu, suku ini tidak adaptif terhadap perkembangan di luar daerah. Ini dikarenakan kultur masyarakat Rejang yang sulit untuk menerima pendapat di luar dari pendapat kelaziman menurut pendapat mereka, dan ini menjadi bukti keyakinan dan ketaatan mereka terhadap adat-istiadat yang berlaku sejak dahulu kala.

Hal ini menggambarkan bahwa sejak zaman dahulu suku Rejang telah memiliki adat-istiadat. Karena mayoritas suku Rejang masih mempertahankan kebudayaan mereka, tidak heran jika hukum adat yang berupa denda dan cuci kampung masih dipertahankan hingga sekarang. Suku Rejang sangat memuliakan harga diri, seperti halnya penjagaan martabat kaum perempuan, penghinaan terhadap para pencuri, dan penyiksaan dan pemberian hukum denda terhadap pelaku zina. Dikarenakan kesesuaian tradisi Rejang dengan ajaran Islam, suku Rejang telah mengubah kepercayaan terdahulu mereka ke ajaran agama Islam. Hingga saat ini, budaya mereka juga identik dengan nuansa Islam. 

Kota Curup, Masyarakat Rejang dahulunya di jajah oleh Inggris. Karakter penjajahan Inggris, selalu meninggalkan perubahan dan kemajuan, tidak serta merta melakukan kekerasan yang berkepanjangan sehingga membuat penderitaan yang begitu dalam dan banyak terjadi pemberontakan. Budaya kemajuan yang ditinggalkan oleh Inggris dapat terlihat dari bangunan-bangunan yang ditinggalkan, peralatan yang digunakan dan pendidikan yang dberikan kepada masyarakat walaupun tidak semuanya, biasanya hanya golongan bangsawan atau pemimpin suku yang ada pada waktu itu.

Pameran dalam rangka HUT Kota Curup, Rejang Lebong
“Bukti sejarah masyarakat Rejang Lebong, Curup”

Setelah Inggris secara resmi menyerahkan pemerintahan di Bengkulu kepada Belanda pada 6 April 1825, nasib masyarakat Bengkulu – masyarakat Rejang dan daerah pesisir tetap menderita di bawah belenggu kolonial. Kondisi itu berbeda dengan masyarakat Rejang di daerah pedalaman atau pegunungan yang tidak pernah mengalami penjajahan hingga tahun 1860. Keberuntungan itu dikarenakan letak daerah Rejang yang jauh di pedalaman dan dikelilingi bukit barisan serta hutan rimba yang masih sangat belantara. Sebelum Belanda menyambangi Tanah Pat Petulai, peradaban masyarakat Rejang sudah lebih maju dibandingkan dengan masyarakat lainnya.

Hal ini dibuktikan dalam masyarakat Rejang telah memiliki pemerintahan masyarakatnya sendiri yang terdiri dari 5 orang tuwi kutei. Kutei merupakan suatu masyarakat hukum adat asli yang berdiri dan geneologis terdiri dari sekurang-kurangnya 10 hingga 15 keluarga atau rumah, sedangkan tuwi kutei merupakan kepala kutei yang dipilih berdasarkan garis keturunan pendiri petulai (kesatuan kekeluargaan masyarakat Rejang yang asli). Dengan adanya sistem petulai tersebut, menandakan masyarakat Rejang sudah memiliki hukum adat yang dipatuhi oleh pendukungnya. Peradaban yang maju pada masyarakat Rejang juga ditandai bahwa suku Rejang telah memiliki aksara sendiri sebagai alat penyampai informasi, yakni aksara kaganga. Hingga saat ini, masyarakat Rejang yang asli masih memiliki peradaban yang menjunjung harga diri. 

Suku Rejang – Aksara kaganga

Budaya memuliakan perempuan yang dilakukan masyarakat Rejang menjadi cerminan yang mulia dan budi pekerti yang harus selalu di budayakan, karena perempuan adalah ibu yang banyak berjasa untuk membangun budaya dan peradaban suatu daerah, sehingga sepantasnya kaum perempuan dihormati dan dimuliakan sebagaimana tradisi yang sudah lama dilakukan oleh masyarakat Rejang. Begitu juga dengan kejahatan pencurian dan tindakan amoral lainnya, selalu ditindak dengan jelas dan kepastian hukumnya oleh masyarakat Rejang, apalagi sampai berbuat zina, berarti tidak menghormati perempuan, merusak tatanan social dan budaya sehingga diberikan hukuman.

Budaya masyarakat rejang dahulunya memiliki hubungan dengan ajaran-ajaran Islam. Sehingga Budaya daerah membangun semangat kerja yang produktif dengan karakter relegius. Diketahui bahwa masyarakat Rejang mayoritas bekerja bercocok tanam, berkebun hortikultura sayur-syuran dan buah-buahan. Bila kita berkunjung ke Kota Curup, di sepanjang jalan, kita dihadapkan dengan pemandangan yang asri dan indah, yaitu pemandangan kebun-kebun sayur mayur dari masyarakat, kebun buah Jeruk yang khas Curup begitu juga Kebun Buah Strawbery.

Banyak penghasilan sayur mayur dan buah buahan yang di jual di luar daerah Curup, dibeberapa Kota/Kabupaten dan Provinsi yang ada di Indonesia, seperti Provinsi Jambi, Bengkulu dan Palembang, begitu juga dengan Provinsi-Provinsi lainnya, sehingga menjadi pendapatan pemasukan untuk daerah untuk meningkatkan perekonomian di Kota Curup. Kebun Kopi juga banyak ditemukan di Kota Curup, menjadi salah satu distributor, pemasuk terbesar di Sumatera. Seperti Produksi Kopi Tora Bika, kopi nya berasal dari Kota Curup, yang dipasarkan ke seluruh Indonesia bahkan dunia. Produksi Brand Kopi local kota Curup, yang sangat diminati oleh para wisatawan atau pengunjung yang datang ke Kota Curup yaitu ada Kopi Jempol, Kopi Cang Eng, Kopi Redjang, Kopi Sintaro Rejang Lebong. Dan di jual juga ke luar daerah Kota Curup.

Kopi Bubuk Asli Cang Eng
Kopi Cap Jempol
Kopi Sintaro Rejang Lebong

Dikutip dari website http://www.rejanglebongkab.go.id  Dalam sambutannya, Bupati Ahmad Hijazi mengatakan, hari jadi Kota Curup sebagai mana yang telah ditetapkan dalam peraturan daerah Kabupaten Rejang Lebong nomor 6 tahun 1998 tentang hari jadi Kota Curup, secara legal formal ditetapkan pada tanggal 29 Mei 1880. “Peringatan hari jadi kota curup secara rutin yang kita laksanakan setiap tahun, tentunya tidak hanya mengandung makna ceremony semata, tetapi lebih dari itu harusla kita pahami dan maknai sebagai suatu momentum yang bersejarah, dalam proses perkembangannya sejam berdiri hingga pada usia ke 139 pada tahun ini,” ujar Bupati.

Peringatan hari jadi Kota Curup pada tahun ini mengambil tema “Dengan Semangat Hari Jadi ke 139 Kota Curup Kita Gali Potensi Budaya Daerah Dalam Rangka Memperkokoh Jati Diri Bangsa Menuju Rejang Lebong Yang Cerdas, Sehat, Sejahtera, Berbudaya dan Religius”, yang dimeriahkan dengan berbagai kegiatan yang dikemas dalam festival budaya daerah, pameran dan bazar. “Kegiatan ini memiliki makna dan arti penting bagi masyarakat Kabupaten Rejang Lebong, disamping memberikan aspek, hiburan, danemberikan kesempatan kepada masyrakat untuk mengapresiasikan seni budaya daerah, juga yang mengandung makna yang strategis dalam upaya memberikan informasi pembangunan dan penyelenggaraan pemerimtahan kepadaasyarakat,” ucapnya Ahmad Hijazi Bupati.

Bupati dan Wakil Bupati Rejang Lebong, Curup

Memperingati Hari Jadi Kota Curup adalah momentum untuk berubah kea rah yang lebih baik dan lebih maju. Menurut penulis ada 3 hal penting yang harus menjadi perhatian kita bersama untuk memajukan Kota Curup menjadi Daerah yang dengan budayanya bisa membangun Semangat Kerja yang Berkarakter Relegius, yaitu 1) Menjadikan Karakter/ Akhlak sebagai pondasi dalam berbudaya, karena dengan pondasi yang kuat dapat membangun budaya yang lebih bersahaja dan bermakna bagi kehidupan, 2) Memiliki kompetensi, setiap masyarakat Kota Curup harus selalu meningkatkan kemampuannya baik kemampuan intelektual, emosional dan professional dengan cara proses belajar dan belajar yang berkelanjutan dan selalu melakukan hal-hal yang kreatif dan inovatif untuk membangun daerah.

3) Dengan literasi, terbuka dengan perkembangan zaman, informasi dan teknologi. Masyarakat Kota Curup dihadapkan dengan berbagai tantangan informasi dan teknologi, maraknya bahaya informasi bohong “hoax” harus bisa di atasi dengan sikap “koreksi” setiap informasi yang datang. Masyarakat Kota Curup harus berkemampuan dan cerdas dalam menggunakan perangkat computer dan smartphone sebagai media yang digunakan dalam perkembangan globalisasi dan sekarang lebih maju lagi, memasuki era Revolusi Industri 4.0 semakin canggih, semakin banyak tantangan dan harus semakin bijak menyikapinya, berubah dengan sikap kreatif dan inovatif dengan dasar karakter/ akhlak yang baik dan kuat.

Sumarto sumarto

Menulis tidak hanya menulis, tetapi menulis harus dengan pengetahuan, karena tulisan butuh pengakuan yaitu keilmuan menulis tentang apa yang ingin di tulis
Sumarto sumarto

Respond For " Hari Jadi Kota Curup Ke 139 Tahun 2019, Budaya Daerah Membangun Semangat Kerja yang Berkarakter Relegius "