+62-852-27-281672
info@literasikitaindonesia.com

Isolasi Diri: Mencegah Corona, Menghasilkan Karya

Oleh Yanuardi Syukur
(Mahasiswa Program Doktor Antropologi FISIP UI/Pengajar Antropologi Universitas Khairun)

Salah satu cara mencegah penyebaran covid-19 adalah dengan mengisolasi diri di rumah. Seperti yang kita tahu, bahwa virus korona itu tersebar dari orang ke orang. Artinya, isolasi diri dengan tidak bertemu banyak orang selain keluarga adalah cara efektif agar tidak tertular virus korona.

Namun, saat isolasi diri di rumah, apa yang sebaiknya kita lakukan? Pastinya sangat membosankan bagi mereka yang sering keluar untuk berlama-lama di rumah. Namun, dalam situasi sekarang, mereka mau tak mau harus memaksa diri untuk berlama-lama di rumah agar terhindar dari kemungkinan penularan virus korona.

Membaca Kembali

Saat di rumah ada baiknya kita membudayakan kembali baca buku. Zaman sekarang ini agak mudah kita membeli buku, tapi kadang bukunya tidak dibaca tuntas. Inilah kesempatan untuk menuntaskan bacaan tersebut.

Buku “Homo Deus” karya Yuval Noah Harari misalnya, penampakannya agak tebal. Kadang, kita hanya baca inti-intinya saja. Tapi, menarik untuk menuntaskan buku tersebut. Pada bagian 1 misalnya, dia bercerita bahwa ada tiga masalah yang menyibukkan orang di abad ke-20 yang lalu, yaitu: kelaparan, wabah, dan perang.

“Banyak pemikir dan nabi menyimpulkan bahwa kelaparan, wabah, dan perang telah menjadi bagian integral dari rencana kosmis Tuhan atau karena alam kita yang memang belum sempurna, dan sampai akhir dunia pun kita tidak akan terbebas dari semua itu.”

Kalimat tersebut menarik, apalagi jika dikaitkan dengan situasi sekarang. Jauh sebelum datangnya Nabi Isa, virus sudah pernah mewabah di dunia manusia. Misalnya, wabah di Athena (430 SM) dengan total kematian 30.000 jiwa, sebuah angka yang teramat besar. Pada abad ke-14, wabah hitam juga mengakibatkan 200 juta jiwa orang Eropa tinggal nama. Boleh dikata, tiap abad itu ada penyakitnya. Tapi manusia selalu berusaha keras untuk melawan virus-virus atau wabah tersebut.

Membaca buku Harari cukup menarik untuk mengenal bagaimana perjalanan manusia sebagai homo sapiens belajar menaklukkan bumi yang dalam banyak hal masih menyisakan misteri. Buku ini bisa jadi salah satu yang menyenangkan untuk dibaca di rumah, karena menjelaskan bagaimana manusia beradaptasi, bahkan berintensi untuk menguasai alam.

Tentu saja, membaca kitab suci juga bagian yang teramat penting dalam kondisi seperti ini. Agama sejak dulu sampai sekarang menjadi solusi penghiburan berbagai derita yang dialami manusia. Dalam potret lebih luas agama sesungguhnya menjadi penenang manakala manusia dihinggapi dengan berbagai ujian kehidupan.

Membaca kitab suci dapat dilakukan secara pribadi sambil merenungkannya. Merenungkan bagaimana Tuhan menciptakan semesta raya dalam sebuah ledakan besar yang kemudian kun fayakun-nya menjadikan segenap tata-surya hadir, termasuk planet bumi yang kita tinggali ini.

Di bumi, Tuhan pun menciptakan berbagai makhluk mulai dari yang terkecil seperti atom, virus, bakteri, hingga yang agak besar seperti manusia, hingga hewan dan tumbuhan beraneka macam. Makhluk yang besar lagi ada di laut seperti ikan paus, hingga bulan, matahari, dan sejenisnya. Semua Tuhan ciptakan dengan tujuan.

Membaca kitab suci dapat dilakukan juga dengan mencoba merenungkan kaitannya dengan hasil olah-pikir manusia dalam ilmu pengetahuan. Pernah ada masa di mana manusia di lokal-partikular tertentu menjauh dari agama, tapi pada akhirnya agama tetaplah menjadi bagian inheren dalam perjalanan pikiran manusia. Agama tetap menjadi salah satu jawaban di tengah kemelut umat manusia.

Maka, mencoba melakukan sinergi antara ranah keyakinan (agama) dengan pengetahuan (sains) bisa menjadi salah satu hal menarik yang dapat dilakukan oleh mereka yang tertarik untuk itu. Artinya, sambil isolasi diri di rumah dari virus korona, kita mencoba memanfaatkan waktu tersebut untuk berbagai hal yang dapat meninggikan iman dan pengetahuan.

Menulis Tiap Hari

Agak sulit membayangkan sekiranya manusia tidak punya tradisi menulis. Sudah pasti tidak akan ada transmisi pengetahuan yang sifatnya kontinyu dari generasi ke generasi. Hewan yang dekat dengan manusia seperti kucing atau anjing jelas tidak punya tradisi menulis. Maka dari anjingnya Ashabul Kahfi pada abad ke-3 SM sampai sekarang mereka tidak punya intensi tinggi untuk misalnya membuat rumah yang kompleks, teknologi, apalagi peradaban. Itulah yang membedakan manusia dengan hewan.

Menulis dapat menjadi satu solusi saat kita meengisolasi diri di rumah masing-masing. Tidak harus yang berat-berat, kita bisa menulis yang ringan-ringan, karena menulis–yang di dalamnya ada proses menumpahkan emosi jiwa–punya pengaruh positif bagi tubuh. Orang yang rajin menulis cenderung untuk lebih rileks, apalagi jika menulisnya dibarengi dengan penghayatan, apalgi mengandung doa. Bait-bait yang kita baca itu tidak sekedar kalimat kosong tapi mengandung doa penyembuh bagi hati yang mungkin sedang sedih, waswas, atau gelisah.

Ada banyak media yang dapat kita gunakan. Mulai dari Facebook, Instagram, sampai pada Whatsapp. Menulis di blog atau website pribadi juga bagian yang masih menarik. Jika mau agak serius, menulis untuk media mainstream juga penting tidak hanya untuk mencurahkan gagasan tapi juga untuk menguji apakah ide kita dapat diterima publik.

Pada bulan Maret 2020 ini misalnya, sembari baca-baca artikel jurnal untuk kebutuhan disertasi, saya juga membina para penulis yang ingin meningkatkan skill-nya dalam program 1 bulan 1 buku. Berdasarkan pengalaman, satu bulan waktu yang cukup untuk menulis buku populer, bukan buku ilmiah dengan standar yang ketat seperti jurnal internasional dan sejenisnya. Program seperti ini, baik yang dilakukan secara berjama’ah di grup WA atau secara pribadi, adalah cukup baik untuk memanfaatkan isolasi diri dari korona agar menghasilkan karya.

Tentu saja, ada banyak hal lain yang dapat kita lakukan dalam momen isolasi diri ini seperti mendekatkan diri lagi kepada Sang Pencipta lewat berbagai ibadah, lebih dekat dengan keluarga, dan lain sebagainya. Apapun aktivitas tersebut, kita upayakan agar memiliki nilai tambah, agar isolasi diri tidak sekedar diisi dengan main game, baca status media sosial, atau sibuk mencari berita ter-update tentang korona tapi lalai untuk makan yang teratur dan bergizi seimbang yang sangat penting untuk menjaga imunitas tubuh kita agar kuat menghadapi ancaman virus yang datang dari luar.*

Depok, 16 Maret 2020

Foto: PNGitem.com

Follow me

Respond For " Isolasi Diri: Mencegah Corona, Menghasilkan Karya "