+62-852-27-281672
info@literasikitaindonesia.com

Pesan Sang Kiyai

Oleh: Mashee

Aku duduk di lantai ruangan yang dijadikan mushalla di setiap waktu shalat. Dengan khidmat aku melafalkan bacaan tahiyyatul akhir. Saat ini aku bersama santri-santri yang lain sedang menunaikan shalat Isya. “Yaa Muqallibal Qulub, Tsabbit Qalbiiy ‘Ala Diinik”. Tepat setelah aku membaca doa setelah tahiyyatul akhir tersebut, imam menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sembari mengucapkan salam sebagai tanda bahwa shalat telah berakhir. Sontak saja, hampir seluruh santri mengikuti gerakan tersebut meskipun ada beberapa santri yang masih diam menyelesaikan bacaan shalatnya.

Aku mengubah posisi dudukku. Sedikit menjorokkan badan ke arah kiri agar memberikan ruang untuk kakiku bergerak. Aku menahan berat badanku dengan tangan kiri dan mengubah posisi dudukku menjadi duduk bersila. Setelah aku memperbaiki posisi dudukku, akupun membaca istighfar, “Astaghfirullahal’adzim, alladzi Laailaaha illahu wal hayyul qayyum wa atuubu ilaih”. Seluruh santri yang telah menyelesaikan shalat juga melakukan hal yang sama dan dilanjutkan dengan berdzikir bersama. Istighfar menjadi kalimat pembuka untuk berdzikir setiap selesai shalat.

Aku berusaha untuk khusyuk dalam bacaan dzikirku. Menghayati tiap-tiap kata yang aku ucapkan. Mengingat arti dari setiap bacaan yang ku baca. Merenungi kebesaran Allah saat menyebut Asma-Nya. Mungkin hal ini juga dilakukan oleh santri-santri yang lain. Atau mungkin juga tidak. Yang jelas, pada dzikir kali ini aku ingin sedikit menikmatinya. Bukan berarti aku tidak menikmati bacaan dzikir yang biasa aku bacakan setelah shalat. Hanya saja aku ingin lebih menikmati masa-masa akhirku berada di Pondok Pesantren ini. Tempat yang menjadi bagian hidupku selama tiga tahun terakhir. Entahlah, terkadang sesuatu memang terasa sangat berarti ketika diketahui akan berakhir. Seperti anak kecil yang sedang menelan potongan es krim terakhirnya. Potongan es terakhir itu akan lebih dinikmatinya. Bahkan hingga tetes terakhir es yang sudah mencair di batang es krim pun tidak disisakan. Mungkin saat ini aku merasakan hal yang sama. Jika tidak aku nikmati bagian akhirnya tetap akan habis seperti es yang tetap mencair saat dibiarkan. Tetapi jika aku nikmati, bagian ini juga akan habis. Hanya saja aku menikmati saat-saat akhir itu.

Imam shalat sudah selesai membaca doa. Beberapa santri sudah mulai beranjak pergi. Aku juga begitu. Perlahan aku beranjak keluar ruangan. Ruangan ini berada di lantai dua. Dari atas sini aku bis melihat aktifitas yang dilakukan oleh santri-santri yang berada di luar ruang kelas. Malam ini, tidak ada santri yang belajar di ruang kelasnya. Semua sedang antusias membantu persiapan perpisahan kami besok. Merapikan ruangan, menata kursi dan meja, menghias, latihan untuk pentas seni dan sebagainya. Setiap santri memiliki kesibukan masing-masing saat ini. Begitupun aku dan santri-santri angkatanku. Hanya saja aku masih ingin lebih lama berdiri di sini. Melihat aktifitas orang-orang yang ada di Pondok Pesantren ini.

 “Mas, dipanggil abah”. Tiba-tiba ada seseorang yang berbicara di sebelahku. Aku menoleh mencoba mencari tau siapa yang sedang bebicara. Ternyata itu adalah Hamid, adik kelasku. Ia merupakan santri kelas satu Tsanawiyah (setingkat SMP).

“Eh? Seriusan?”. Tanyaku padanya untuk memastikan bahwa aku benar-benar dipanggil Abah. Abah adalah panggilan santri di sini kepada Kiyai.

“Iya mas, tadi aku disuruh ustadz Didi mencari santri kelas tiga Aliyyah (setingkat SMA). Katanya di panggil sama Abah di Ruangan guru”.

“Baik Mid, terimakasih ya”.

“Iya mas, sama-sama”.

“Oh iya, lain kali kalau ketemu itu ucapkan salam dulu lhooo”.

“Heee, iya mas, lupa”.

Aku beranjak pergi. Begitu juga dengan Hamid, ia langsung berlari setelah memberitahuku hal tersebut. Saat sampai di Ruangan Guru, ternyata santri-santri angkatanku sudah ada yang sampai lebih dulu. Aku mengucapkan salam. Santri-santri yang di dalam menjawab salamku. Aku pun masuk ke dalam. Santri yang sudah hadir mengobrol sembari menunggu santri-santri yang lain. Aku sudah masuk, tetapi masih berada di dekat pintu. Aku mencari tempat duduk yang kosong. Setelah beberapa saat, mataku tertuju pada kursi yang berada di dekat lemari di sebelah kanan ruangan. Aku pun berjalan ke sana. Bukan karena kosong, tetapi karena teman-teman dekatku duduk di sana.

“Eh, kenapa kita dipanggil?”. Tanyaku pada Salman, temanku.

“Ga tau juga, aku tahunya Cuma di suruh ke sini sama Abah”.

“Sama, aku juga gitu”.

Tiba-tiba saja, ruangan ini menjadi hening. Santri-santri duduk diam di tempatnya masing-masing. Dari kondisi ini, aku bisa tahu jika Abah sedang menuju ke sini. Diamnya para santri menjadi penanda hal itu. Aku pun ikut menghentikan pembicaraanku dengan Salman.

Assalamu’alaikum”. Abah mengucapkan salam kepada kami dari pintu ruangan ini.

Waalaikumsalam Bah”.

Abah duduk di kursi yang berada di dekat pintu. Ia menatap kami dengan seksama. Tatapan teduh penuh kasih sayang. Senyum yang tersirat juga tampak samar. Kami masih diam menunggu. Dalam waktu yang singkat itu suasana menjadi benar-benar hening. Bahkan detak jam dinding yang biasanya samar kini terdengar jelas. Beberapa kali Abah mengedipkan matanya.

“Anak-anakku, ada beberapa hal yang ingin abah beritahukan kepada kalian”. Abah memulai pembicaraan. Kami masih diam. Sebagian santri ada yang mengangguk. Sedangkan aku hanya diam. Memandangi sosok guru yang selama ini membimbing santri-santrinya dengan sabar. Abah melanjutkan pembicaraannya. “Besok kalian akan mengadakan perpisahan. Abah minta maaf jika masih belum bisa membimbing kalian dengan baik. Mungkin kadang-kadang Abah menghukum kalian”.

Saat mendengar hal tersebut, entah mengapa tiba-tiba aku malu. Karena selama ini justru kami lah yang selalu menyusahkan Abah dan para Ustadz dan Ustadzah di sini. Memori-memori selama tiga tahun di sini kembali terputar dalam ingatanku. Aku yang sering terlambat. Aku yang kadang tidak menghapal. Aku yang sering tidur di kelas. Aku yang kadang bolos. Aku yang berkali-kali mendapatkan hukuman. Saat itu, bukan rasa kesal yang aku rasakan. Justru rasa bersalah dan menyesal lah yang muncul. Mengapa aku tidak bisa bertindak layaknya santri yang baik? Santri yang tawaddhu? Santri yang tidak nakal.

“Tidak bah, kamilah yang banyak memiliki salah selama menjadi santri di sini”. Aku bergumam di dalam hati.

Abah melanjutkan kembali kata-katanya. “Setelah ini, mungkin kalian ada yang lanjut belajar di jenjang perkuliahan. Ada yang bekerja. Ada yang kembali ke rumahnya. Ada yang merantau”. Abah diam sejenak sembari memandangi kami. “Entah kalian mau jadi apa. Bagaimana jalan hidup kalian. Bagaimana kehidupan kalian. Abah minta kalian jangan tinggalkan Shalat”.

Semua santri yang berada di ruangan ini mendengarkan pesan Abah dengan seksama. Pesan yang sederhana memang, tetapi itu pesan yang berat. Bahkan imam Ghazali pung mengutarakan bahwa shalat adalah sesuatu yang sangat ringan untuk ditinggalkan. Pesan yang selalu menjadi nasehat selama kami di sini. Himbauan yang selalu di ucapkan oleh Abah dan para Ustadz dan Ustadzah di sini. Aku tidak tahu bagaimana perasaan teman-teman saat itu. Semuanya diam. Ada yang merenung. Ada yang memperhatikan. Ada yang tersenyum. Mungkin juga ada yang tidak tahu harus mengeluarkan ekspresi apa.

Aku?

Aku justru mengingat-ingat kembali memori yang telah lalu. Saat aku di hukum karena terlambat shalat. Saat Abah menyuruh kami shalat. Saat Abah sedang mengajar. Entah bagaimana memori-memori itu terputar bergantian. Yang pasti tidak lama lagi masa kami belajar di sini akan berakhir.

Abah tetap melanjutkan pembicaraannya. Menanyai kami tentang rencana kami setelah kami lulus. Memberikan arahan-arahan untuk menjalani kehidupan kamu. Tetapi aku tidak begitu memperhatikan apa yang dibicarakan Abah setelahnya. Aku hanya memperhatikan sosok beliau. Sosok guru yang tawaddhu. Sosok guru yang sabar. Sosok guru yang Arif. Sosok guru yang berkarisma. Sosok guru yang menjadi teladan santri-santrinya.

….

Terimakasih dan rasa hormat yang setinggi-tingginya kepada guru-guru hebat yang telah mengajariku banyak hal. Kini aku mungkin belum bisa melaksanakan semua ilmu yang telah diajarkan, tetapi aku bisa katakan bahwa aku akan berusaha menjadi manusia yang bermanfaat.

Selamat Hari Santri Nasional untuk seluruh santri dimanapun berada.

Sumber Gambar : https://www.tabloidbintang.com/

Follow me

Respond For " Pesan Sang Kiyai "