+62-852-27-281672
info@literasikitaindonesia.com

MENJADI CHINA, MENJADI ISLAM, MENJADI INDONESIA

Mr. Suratno – Dosen & Chairman The Lead Institute, Universitas Paramadina – Jurusan Political Anthropology & Religion (Neue Diskurse zu Staat und Gesellschaft in der Islamischen Welt) di Goethe-Universität Frankfurt

Karena harus diet biar kadar gula stabil dam luka pasca operasi cepet kering, pagi ini saya usul saya sarapan yg hambar2. Air putih, rebusan sayur dan munthul (yg ini ada rasanya dikit, sy lupa bahasa indonesianya apa? hehe). Tapi tambahan “sarapan” buku ini bikin pelengkap rasa pagi ini: gurih dan renyah.

Buku ini yg aslinya berjudul “Chinesse Ways of Being Muslim: Negotiating Ethnicity and Religiousity in Indonesia” karya Hew Wai Weng (2018)

Bagi saya sangat menarik karena smp sekarang sentimen (maaf) anti–china sering bgt di jadikan propaganda terutama oleh kalangan Islamis. Ini menurut sy aneh, krn propaganda itu problematik.

Pertama, anti-china yg dimaksud itu apa? Asosiasi china dgn pki dan ateis, pemerintah china dan kebijakan2nya, orang china dgn latar budaya dan social behaviournya? Trs orang china yg mana? yg di china, china diaspora, atau china di indonesia?

Sy kira propaganda itu blur. Nggak jelas. Kesannya generalisasi sj alias gebyah uyah. Klopun nggak begitu, yg ada adalah standar ganda. Jadi anti-china yg dimaksud bisa salah satu di atas tapi bisa berubah dan berganti, tergantung konteks dan kepentingannya. So weird, anehh.

Kebetulan thn 2010 or 2011 (?) sy pernah ke China utk seminar di Nanjing-University dan ngisi Summer-Course di Shanghai-University.

Jadi hadist (ada yg bilang atsar) uthlubul ngilma walau bisshin, carilah ilmu walau ke negeri China sdh sy laksanakan hehe.

Kedua, tdk cuma soal hadist (atau atsar) cari ilmu ke negeri China, sy kdg penasaran jg kaum Islamis yg propaganda anti-China, bgmn sesungguhnya mereka memandang orang China yg Muslim, baik yg di china, china diaspora, atau china di Indonesia?

Ke depan sy mmg tertarik utk riset seputar propaganda anti-china oleh kalangan Islamis di Indonesia dan pandangan mrk trhdp orang China Muslim. Klo yg anti-amerika/barat, anti-israel/yahudi sdh bnyk dibahas. Nah buku ini, salah satunya, membantu sy utk kepentingan itu.

Saya melihat kompleksitas karena seperti testimoni Prof Heffner bahwa Islam dan China seringkali dilihat sebagai kategori sosial yang terpisah.

Padahal …..menurut sy fakta dan realitas tdk spt itu. Selain hadist (atsar) di atas, jg bnyk orang China yg Muslim baik di China, diaspora maupun di Indonesia.

Bhkn sejarah masuknya Islam ke Indonesia teori ke-4 (selain 3 teori dari gujarat, arab dan persia) adalah dari China melalui laksamana Cheng-Ho. Bnyk bukti historis utk hal itu. Jg sdh bnyk buku ditulis utk menjelaskannya.

Buku Hew Wai Weng menarik karena berhasil menunjukkan pada kita bahwa orang china menjadi Muslim (baik sejak lahir atau krn pindah agama) tanpa kehilangan ke-china-annya. Terlebih lagi utk kasus Indonesia mereka bisa berakulturasi (ada yg mnyebut ber-fertilisasi) dengan budaya Indonesia.

Melalui pembahasan beragam tema penting mulai dari desain arsitektural, aktivitas dakwah, politik, festival budaya dan profil orang2 china-muslim di Indonesia, buku ini menyadadkan dan mengajak kita bahwa ternyata:

Menjadi China, menjadi Islam dan menjadi Inonesia mestinya dilihat scr monofonik (satu suara), bukan scr polifonik (terpisah-pisah dan bnyk suara)

Klo penasaran dgn detail isinya, sila beli buku ini. Kata Hani yg sy minta mbeliin bukunya msh bnyk di Gramedia. Harganya Rp124.000. Mgkn agak mahal dikit tp klo lihat tebalnya yg 370 halaman dan kualitas isinya yg gurih dan renyah, sy kira spt dibikang mbokke/ibu saya “ana rega…. ana rupa…” hehe…

Sumarto sumarto

Menulis tidak hanya menulis, tetapi menulis harus dengan pengetahuan, karena tulisan butuh pengakuan yaitu keilmuan menulis tentang apa yang ingin di tulis
Sumarto sumarto

Respond For " MENJADI CHINA, MENJADI ISLAM, MENJADI INDONESIA "