+62-852-27-281672
info@literasikitaindonesia.com

Pendidikan untuk mengatasi “Biaya Gaya Hidup bukan Biaya Hidup”

Problematika yang sekarang tidak tampak jelas, tetapi bahayanya sudah jelas dirasakan, bahkan sadar itu adalah bahaya, tetapi masih terus di jalankan, baik masyarakat tidak terdidik bahkan terdidik sekalipun melakukannya, yaitu tentang gaya hidup. Banya biaya yang dikeluarkan untuk hanya gaya hidup.

Gaya hidup adalah kebutuhan sekunder dan tersier, apabila tidak dipenuhi juga tidak apa-apa, karena hanya menjadi aksesoris dalam kebutuhan kebutuhan lainnya. Tetapi di zaman dewasa ini, publik tidak semakin dewasa menyikapinya, banyak membeli kebutuhan hidup yang sifatnya tidak “FUNGSI” tetapi “GENGSI” hal ini membuat banyak problem dalam kehidupan. Membeli sesuatu niat nya untuk gengsi atau bahkan pamer, padahal kemampuannnya sangat terbatas dan bahkan banyak “kredit/ hutang” untuk memenuhi kebutuhan gengsi dan pamer, seperti membeli/ kredit peralatan perabotan yang tidak dibutuhkan tetapi di beli, membeli/ kredit alat transportasi; mobil, sepeda motor padahal sudah ada, bahkan pada ketika itu alat transportasi bukan menjadi kebutuhan primernya tetapi dibeli/ di kredit juga, smartphone dan lain sebagainya.

Banyak masalah hidup di akibatkan dengan gaya hidup, sehingga banyak lalai, banyak hutang, pekerjaan yang dilakukan tidak lagi berdasarkan “sumpah atau janji setia” aturan banyak yang dilanggar, kemudian membuat aturan sendiri, sesuka hati, sehingga memperbanyak masalah dalam hidup. Seharusnya pendidikan mampu menjawab permasalahan ini, pendidian finaan sangat penting untuk di ajarkan sejak dini, sehingga anak-anak, genarasi muda mampu mengelola hidupnya dengan hidup yang sederhana seperti yang di contohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Rasulullah memiliki rumah yang sederhana, tidurnya ber alaskan pelepah kurma, ukuran rumah Rasululllah tidak besar dapat dikatakan kecil, tetapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Rasul yang kaya, pedagang yang sukses, banyak memberikan bantuan kepada ummatnya. Sehingga makna kaya bukan dari gaya hidup, tetapi sejauh mana kita membantu orang lain untuk hidup dan bahagia seperti yang kita alami.

Pendidikan untuk mengatasi “Biaya Gaya Hidup bukan Biaya Hidup” karena biaya hidup sebenarnya sudah terpenuhi dengan cukup bahkan lebih, tetapi biaya gaya hidup yang selalu berlebih lebihan bahkan tidak terkontrol, sehingga diperlukan 5 hal yang harus di lakukan yaitu, 1. Membeli sesuatu karena fungsi bukan gengsi, 2. Membeli sesuatu dengan dasar kemampuan yang dimiliki, 3. Menabung dengan konsep yang benar, yaitu menabung dengan barang yang dapat meningkatkan nilai harga seperti properti, tanah, kebun, sawah, logam mulia, 4. Tidak ikut-ikutan dengan apa yang dikatakan orang, untuk gaya hidup, pamer dan sombong. 5. Hidup dengan sederhana, membantu orang lain dan membuatnya bahagia seperti kita.

(Sumarto – Dosen IAIN Curup)

Sumarto sumarto

Menulis tidak hanya menulis, tetapi menulis harus dengan pengetahuan, karena tulisan butuh pengakuan yaitu keilmuan menulis tentang apa yang ingin di tulis
Sumarto sumarto

Respond For " Pendidikan untuk mengatasi “Biaya Gaya Hidup bukan Biaya Hidup” "